Selamat Datang di Blog milik TINEKE SEPTIANA RAMDHANI

Selasa, 16 Oktober 2018

NGOPI-lah dengan SARAOSNA


Sumber Foto: Fan Page Ridwan Kamil
Acara rutin yang diadakan Pemprov Jabar kembali diselenggarakan. NGOPI SARAOSNA VOL. 6. Bertempat di pelataran Gedung Sate Bandung, acara ini diikuti oleh beberapa pengusaha di bidang kopi dan dimeriahkan oleh para pelaku kuliner dengan FOOD TRUCK nya. 
Sumber Foto: Fan Page Ridwan Kamil

Acara kali ini terasa istimewa karena diresmikan oleh Ridwan Kamil yang baru saja dilantik sebagai Gubernur Jawa Barat pada tanggal 5 September 2018. Peresmian dilakukan dengan cara yang berbeda, yaitu melakukan City Riding keliling kota bersama komunitas penggemar motor kota Bandung. Didampingi wakil gubernur, Uu Ruzhanul Ulum, Kang Emil-sapaan akrab Ridwan Kamil, mengendarai motornya dengan gaya yang santai. Mirip Dilan, lho..  Aiiihhh...come on...move on dari Dilan, ya.
Dalam acara NGOPI SARAOSNA ini, pengunjung tidak hanya dikenalkan dengan jenis-jenis kopi yang dipamerkan namun dapat juga melihat aksi para barista mengolah kopi sebelum kopi disajikan.
Bagi yang tidak suka dengan atraksi perkopian, jangan khawatir. Di area dalam Gedung Sate, ada Museum Gedung Sate yang dibuka untuk umum. Didalamnya, para pengunjung dapat melihat sejarah awal mulanya Gedung Sate didirikan. Juga akan diperlihatkan para gubernur sebelumnya yang pernah memimpin Jawa Barat dari masa ke masa.
NGOPI SARAOSNA bukan sekedar acara ngopi namun juga acara yang mendekatkan pemerintah provinsi Jawa Barat dengan rakyatnya.

Kopi itu digiling, bukan digunting.



Rabu, 07 Maret 2018

Smartphone Photography, Bukan Fotografi Biasa

Sekarang ini, penggunaan alat komunikasi selular berupa telefon genggam sudah menjadi kebutuhan primer. Dulu, fungsinya hanya sebagai alat untuk saling menelfon atau berkirim pesan singkat. Seiring berjalannya waktu, telefon genggam pun mengalami perkembangan. Perkembangan itu berupa aplikasi percakapan, berselancar di internet, kamera dan aplikasi editing foto. Karena fasilitas-fasilitas tersebut maka telefon genggam pun disebut juga sebagai telefon pintar atau smartphone. 
Bagi yang suka memotret, maka fasilitas kamera yang ada di telefon genggam digunakan bukan hanya untuk mengabadikan suatu peristiwa tetapi juga untuk membuat karya fotografi. Fotografi sederhana yang menggunakan kamera telefon pintar akan terlihat luar biasa setelah diedit menggunakan aplikasi  seperti Photo Grid atau Snapseed. Tak jarang, karya foto dari telefon pintar diunggah ke media sosial.
Melihat fenomena tersebut, sebuah komunitas fotografi bernama MotoGenik mengadakan pelatihan fotografi yang menggunakan telefon pintar. Sabtu, 17 Februari 2018, bertempat di Resto Centropunto Jl. Trunojoyo no. 58 Bandung, pelatihan tersebut mengambil tema ‘Dari Foto Turun Ke Hati’
Ibu Ariana Octavia - Narasumber

Yang menjadi pengajar pelatihan adalah seorang ibu rumah tangga bernama Ariana Octavia yang sudah sangat ahli dalam membuat fotografi hanya dengan menggunakan telfon pintar. Pelatihan yang dihadiri kaum hawa ini memberlakukan aturan dress code ‘Pink is The New Black’.Tidaklah heran, peserta yang hadir memakai busana yang didominasi oleh warna hitam dan merah muda.
Dalam pelatihan itu, Bu Ariana tidak hanya memberikan materi secara teoritis tetapi juga membimbing para peserta secara langsung bagaimana membuat foto dengan sudut pengambilan ’45 degrees, flat lay, dan eye level’

Suasana saat pelatihan. Seru, lho!!!

Apakah hanya memberikan materi fotografi? Tentu saja tidak. Dalam pelatihan tersebut ada juga kuis dan photo competition. Yang paling seru tentu saja tantangan untuk membuat karya foto dari telefon pintar. Panitia sudah menyediakan objek foto lengkap dengan sudut pengambilan fotonya. Seru, lho. Terlihat para peserta sangat antusias memotret objek foto dan berusaha membuat karya foto yang sesempurna mungkin untuk diikutsertakan dalam lomba.
Dari pelatihan ini terlihat bahwa semua individu dapat membuat fotografi yang indah walaupun hanya dengan menggunakan kamera telefon pintar. Jadi, yang belum mahir pakai kamera DSLR, jangan khawatir. Bukan tidak mungkin, berawal hanya dari kamera telefon akhirnya akan menggiring para fotografer telefon pintar (Smartphone Photographer) menjadi fotografer kamera DSLR. Karena hal yang besar diawali dari hal yang kecil. Ok, ladies..let's take another pictures. 

Cekrek..cekrek..!!!!!






Senin, 25 September 2017

Wisata Dirgantara Kota Bandung



 Bandung adalah ibukota dari Propinsi Jawa Barat. Letaknya yang berdekatan dengan ibukota negara menjadikan Bandung sebagai salah satu tujuan wisata pilihan. Terkenal akan keragaman kulinernya, maka tak heran kota ini dijadikan sebagai tempat wisata kuliner. Selain itu ada hal unik yang dimiliki kota Bandung tiap kali warganya mengisi hari-harinya di pusat kota. Apakah itu?

Pemandangan saat sebuah pesawat komersial melintas karena akan melakukan pendaratan dan penerbangan. Ya, kota Bandung memiliki bandar udara yang terletak di area kota. Bandar Udara Husein Sastranegara. Tidaklah heran saat tengah berjalan-jalan menikmati keramaian kota, akan terlihat pemandangan unik tersebut. Seringkali, pesawat-pesawat itu terlihat saat akan melakukan pendaratan. Lokasi-lokasi yang membuat warga seringkali melihat pemandangan tersebut di sekitar jalan Merdeka, jalan Padjadjaran, area Balaikota Bandung, Jembatan Layang Pasopati dan lintasan jogging Gelora Saparua.



Selain itu, warga yang melintas di area jalan Gunung Batu dan rel kereta api Cimindi disuguhi pemandangan saat pesawat baru saja melakukan penerbangan (take off) dan tidak jarang berada tepat di bawah perut si burung besi saat sedang melintas di area tersebut. Jika beruntung, warga akan melihat pemandangan yang lebih indah saat pesawat benar-benar terbang ketika berkendara dari kota Cimahi menuju Bandung. Tepatnya di dekat jembatan layang Cimindi.  





Sayangnya, tidak semua orang tahu bahwa ada lokasi yang sering didatangi warga untuk melihat kegiatan penerbangan ini lebih dekat. Yaitu landasan bandar udara. Disini warga bisa melihat saat pesawat akan mendarat atau terbang. Tak jarang, yang datang kesini membawa serta anak-anaknya. Sebuah kegiatan murah meriah. Dimanakah tepatnya lokasi tersebut?


Ada dua lokasi yang sering didatangi warga. Lokasi pertama, dekat SMA Negeri 9 Bandung. Berada di area yang merupakan tembusan jalan masuk yang berawal di jalan Padjadjaran hingga jalan dr. Djundjunan. Sering digunakan warga Bandung sebagai jalan pintas untuk menghindari kemacetan. Saat melintasi jalan tersebut, tak jarang disuguhi pemandangan pesawat yang sedang mengambil ancang-ancang untuk terbang. Melihat pemandangan tersebut, tidaklah heran para warga yang sedang melintas berhenti sejenak untuk menyaksikan keindahan pemandangan tersebut. Akhirnya, banyak warga yang mengisi hari liburnya dengan mengajak serta keluarganya untuk nongkrong di tempat tersebut. Bisa berjam-jam, lho ada disitu.

Lokasi yang kedua, ada di daerah jalan Dakota. Berdekatan dengan sebuah pasar swalayan dan  pemukiman penduduk, area landasan ini merupakan lanjutan dari landasan di lokasi yang pertama. Jika di lokasi yang pertama, warga sering melihat pemandangan saat pesawat akan melakukan pendaratan atau bersiap-siap untuk terbang. Di lokasi yang ini, warga bisa melihat saat pesawat benar-benar terbang.

By TheWay, Anyway, Busway...sejak kapan suka nongkrongin pesawat yang akan tinggal landas? Sejak masih SD. Dulu...suara pesawat yang sedang bersiap untuk tinggal landas,  keras banget bahkan bisa dikatakan berisik. Suara sendiri pun sampai tidak terdengar. Kalau sekarang sih tidak begitu. Suara pesawat terdengar lebih halus sehingga terasa nyaman dan tidak berisik lagi.

Sungguh, kegiatan tersebut bisa menjadi potensi wisata bagi kota Bandung. Dikombinasikan dengan wisata kuliner, maka kegiatan ini bisa dijadikan sebagai wisata alternatif. Wisata Dirgantara. Ooowwww!!!! Unik ya..jika kegiatan nongkrongin pesawat-pesawat yang akan mendarat atau terbang dijadikan kegiatan wisata juga. Setuju...apa..setuju?














BOTRAM 2017: Serunya Perayaan Hari Ulang Tahun Bandung Yang Ke-207 Tahun




Bagi masyarakat Sunda, istilah botram adalah kegiatan makan bersama-sama sambil duduk beralaskan tikar. Biasanya berlokasi di luar rumah seperti halaman atau kebun. Namun, botram yang akan dibahas pada kali ini bukanlah botram seperti biasanya melainkan singkatan dari sebuah acara bernama Bandung Oto Trade Market yang digelar pada 23-24 September 2017.



Ki-Ka: Bapak Agus Tanjung, Bapak Oded Daniel, Mr. Shinya Takeda, Bapak Hendrayadi Lastiyoso
Acara apakah itu? Berdasarkan informasi yang diwartakan di konferensi pers yang berlokasi di Pendopo Kota Bandung, acara yang bertajuk BOTRAM 2017 diselenggarakan dalam rangka merayakan hari ulang tahun kota Bandung yang ke-207 tahun sekaligus bentuk apresiasi Daihatsu dalam merayakan ulang tahun ke-110 tahun.


Hadir dalam acara konferensi pers tersebut Bapak Oded Daniel selaku wakil walilkota Bandung, Bapak Agus Tanjung selaku General Manager Pikiran Rakyat, Bapak Hendrayadi Lastiyoso selaku Marketing & Customer Relation Division Head, PT Astra International Tbk dan Mr. Shinya Takeda selaku Corporate Planning & Communication Director PT Astra Daihatsu Motor. 
Tampilan Moko Yang Unik dan Menarik

Acara BOTRAM 2017 yang mengambil lokasi di jalan Asia Afrika Bandung menghadirkan sebanyak 110 kendaraan Gran Max yang dimodifikasi menjadi ‘Moko’ alias “Mobil Toko’ yang sangat cocok untuk mendukung kegiatan usaha. Para pelaku usaha yang menjadi peserta acara, menghias ‘moko’ nya dengan desain yang semenarik mungkin. Para pelaku usaha yang ikut berpartisipasi adalah yang bergerak dalam bidang fesyen dan kuliner. Namun ada juga  pelaku usaha dari bidang jasa.


Seblak Saritem
Dari sekian banyak ‘moko’ , ada satu ‘moko’ yang menarik perhatian. ‘Moko’ yang satu ini bergerak di bidang usaha kuliner dan diberi nama ‘Food Truck SARITEM’ Kita semua tahu bahwa nama SARITEM identik dengan sesuatu yang negatif karena nama tersebut sudah cukup lama menjadi lokalisasi praktek prostitusi. Saat ditanyakan alasannya akan penggunaan nama tersebut, pemilik food truck menjawab ingin mengangkat nama tersebut agar diingat akan hal-hal yang positifnya. Sebuah alasan yang sangat bijak. Semoga banyak yang mendukung niat mulianya tersebut. Apalagi..seblak buatannya sangat enak.. Yummy!!!! 






Acara istimewa yang dihadiri banyak pengunjung tersebut merupakan acara yang penuh kreatifitas. Itu terlihat dari desain yang diterapkan pada beberapa ‘moko’. Bukan hanya itu. Ajang ini juga seakan memanjakan warga Bandung dari kepenatan akan aktivitas sehari-hari. Tak heran, mereka datang ke acara tersebut dengan mengajak serta anggota keluarganya.  

Dalam kesempatan ini ijinkanlah untuk mengucapkan Selamat Ulang Tahun yang ke-207 bagi kota Bandung. Semoga kreatifitasnya tetap berkembang dan menjadikan Bandung Makin Juara!!











                                                

Minggu, 30 Juli 2017

Disini Kami Bertumbuh



Judul ini diadaptasi dari tagline sebuah lembaga pendidikan formal TK-SD Priangan yaitu ‘Disini Aku Bertumbuh’. Perbedaannya terletak di kata ‘Aku’ dan ‘Kami’. Saya memilih menggunakan kata ‘Kami’ dalam tagline tersebut karena itu mewakili para alumni TK-SD Priangan.

 Yang bersekolah di tempat ini akan menjalani hari-harinya selama 6 tahun. Sedangkan yang bersekolah di tempat ini sejak bangku taman kanak-kanak, menjalani hari-harinya selama 8 tahun. Bayangkan!!! 6-8 tahun. Hampir satu dasawarsa. Mulai berada di sekolah ini saat baru saja lepas dari popok dan meninggalkan sekolah ini saat mulai mengenal episode bernama jatuh cinta. Tentu banyak kenangan yang tidak akan hilang begitu saja.
                                            
Sumber Foto: Dok. Pribadi


Dimana, sih lokasi TK-SD Priangan? Sekolah yang didirikan di tahun 1957 ini berada di jl. Baros no.1 Bandung. Sebuah jalan kecil yang terletak dekat jalan Cilaki dan jalan Bengawan. Juga berdekatan dengan lapangan Supratman. Sekolah ini didirikan oleh Tante Liem Zen Liang. Siapakah beliau? Saya sendiri tidak terlalu mengenal beliau secara mendalam karena saat memasuki lembaga pendidikan ini beliau sudah berpulang ke haribaan Nya. Tetapi bukan berarti saya tidak pernah mencari tahu siapa beliau. Sepeninggal Tante Liem Zen Liang, TK-SD Priangan diteruskan pengelolaannya oleh keturunan beliau dan mempekerjakan seorang wanita sebagai kepala sekolahnya bernama Ibu FA Tulung Rotinsulu.

Saya menjalani hari-hari di TK-SD Priangan dari tahun 1984-1990. Masa kepemimpinan Ibu Tulung. Selain dua wanita yang sudah saya sebutkan, ada juga seorang wanita yang sangat berpengaruh dalam kehidupan warga TK-SD Priangan. Beliau bukan guru melainkan seorang wanita keturunan tionghoa pemilik toko kelontong. Beliau sering dipanggil dengan sebutan Encim. Seorang wanita mandiri dan terkenal akan kebawelannya. Selanjutnya, ijinkan saya untuk menceritakan satu persatu ketiga wanita hebat itu.

1.      Tante Liem Zen Liang
Pendiri TK-SD Priangan yang merupakan wanita keturunan tionghoa. Beliau mendirikan TK-SD Priangan mulai dari nol. Hingga akhir hayatnya, Tante Liem, yang memiliki nama Indonesia Ibu Djuhriah, sangat berdedikasi pada dunia pendidikan. Maka tak heran, menjelang ujian nasional (istilah jaman dulu = EBTANAS), ada tradisi bagi kelas 6 untuk melakukan ziarah ke pusara beliau yang terletak di pemakaman Cikadut. Dari mulai bersekolah hingga menyelesaikan pendidikan di sekolah tersebut, belum pernah melihat fotonya. Jadi betul-betul tidak mengetahui seperti apa rupa dari Tante Liem.  Dan saya pun berkesempatan  melihat rupa dari beliau saat mengikuti reuni SD Priangan di tahun 2010. Disitu terpampang foto beliau. ‘Oooohhh...seperti ini ya wajahnya Tante Liem’ itulah komentar saya saat melihat fotonya. 

Foto Tante Liem. Sumber Foto: Dok. Pribadi



2.      Ibu FA Tulung Rotinsulu
Kalau dengan ibu yang satu ini kenal banget. Of course, beliaulah yang menjadi kepala sekolah saat saya berada di TK-SD Priangan. Bernama lengkap Frederika Aleida Tulung Rotinsulu. Beliau sangat familiar dengan panggilan Ibu Tulung. Seorang ibu yang sangat menyayangi para siswa bagaikan anak-anaknya sendiri. Keibuan tapi tegas. Kedisiplinan sangat terasa pada masa kepemimpinan beliau. Siswa yang datang terlambat atau tidak membuat PR akan kena hukuman. Terkadang, Ibu Tulung mengunjungi kelas-kelas di sela-sela waktu bekerjanya. Ingat banget, deh..saat sedang belajar, Ibu Tulung datang ke kelas. Ada kebiasaan dari warga kelas untuk menyapa beliau dengan terlebih dahulu dikomandoi oleh KM Kelas. ‘Sikap...beri hormat!!  Warga kelas menjawab ‘Selamat Siang, Bu.’
Sikap tegas Bu Tulung bukan berarti tidak diiringi dengan kelembutan hati, lho. Pernah mengalami, orang tua lupa menjemput. Teman-teman yang lain sudah dijemput orang tua masing-masing. Panik, karena menunggu jemputan tidak datang-datang. Jadinya, hu..hu..hu..menangislah... Akibatnya, Bu Tulung ikut repot mengurusi anak yang nangis karena belum dijemput. (Hehe..Bu Tulung, maaf ya sudah merepotkan dengan tangisannya). Yang paling berkesan dari Bu Tulung bukan cuma ketegasan dan kelembutan hatinya. Tapi juga kekuatan Bu Tulung mengenakan sepatu hak tinggi selama bekerja. Wow!!! Iseng-iseng mencoba juga seperti itu. Hasilnya..MANA TAHAAANNNN!!!!!!! So, kembali ke flat shoes.
 
 Ibu Tulung saat muda. Sumber Foto: MyHeritage.com

3.      Encim
Sekarang giliran Encim. Seorang wanita mandiri keturunan tionghoa yang mengisi waktunya dengan membuka toko jajanan anak SD. Jajanan yang paling banyak dicari di tokonya adalah  kerupuk pedas yang sekarang lebih dikenal dengan nama kerupuk gurilem alias gurih dan pelem (hehew..) dan abon ikan merek Enaco (psst..gak apa-apa ya sebut merek). Abon ikan jadi jajanan favorit kedua karena dalam kemasan jajanan ini sering terdapat kupon bonus berupa jajan gratis abon ikan.. (hoorrrreeeee!!!!!). Dengan karakter yang aktif berbicara alias cerewet, seringkali Encim mengomeli anak-anak yang pada usianya senang berlari kesana kemari dan juga membuat ulah. Cerewet dan bawelnya Encim memang membuat panas telinga sekaligus dirindukan. Tidak terlalu mengetahui tepatnya usia Encim saat itu. Mungkin sekitar 50 tahunan ya. Biar begitu, Encim masih kuat mengemudikan motor bebek jadul seorang diri di keramaian lalu lintas. Bener-bener...The Power of Emak-emak.

Encim. Sumber Foto: Facebook


4.      Mang Udin
Siapakah beliau? Beliau bukanlah guru maupun pekerja di TK-SD Priangan. Mang Udin hanyalah seorang penjual batagor yang sering mangkal di area sekitar sekolah. Mang Udin awalnya berjualan sekitar tahun 1985-1986. Masih kelas 2 SD!!!! Pada tahun itu, Mang Udin menjual batagornya masih dengan harga 100/ buah. (Hmm..bandingkan dengan jaman sekarang) Sejak menyelesaikan pendidikan di tingkat SD dan melanjutkan ke tingkat SMP, belum pernah merasakan lagi batagor Mang Udin. Baru beberapa tahun kebelakang merasakan kembali batagor buatan Mang Udin. Itu pun tanpa sengaja dan tidak menyangka bahwa Mang Udin tetap setia berjualan batagor di lingkungan sekolah tersebut. Berarti Mang Udin turut menyaksikan siswa-siswi TK-SD Priangan tumbuh dan berkembang. Bahkan, ada sebagian alumni TK-SD Priangan yang juga menyekolahkan anak-anaknya di sekolah yang sama. Waahhh...Mang Udin bukan sekedar penjual batagor tapi juga bapak dan kakeknya anak-anak.

Sumber Foto: Dok,. Pribadi


Selain keempat tokoh yang menyaksikan siswa-siswi TK-SD Priangan tumbuh dan berkembang, ada juga guru-guru dan tentu saja penjual makanan lainnya. Diantaranya penjual gulali dan penjual lemper.

Dulu, penjual gulali memiliki tempat mangkal di depan gerbang TK Priangan. Cemilan gula unik yang dapat dibentuk dengan aneka macam karakter. Sering waktu berlalu, penjual gulali tidak terlihat lagi di area tersebut. Sayang sekali, tidak generasi penerus yang menjual gulali.

Lalu..apa yang unik dari penjual lemper? Ya,, penjual lemper itu menjajakan dagangannya keliling area sekolah dan lokasi sekitar sekolah dengan menggunakan sepeda sambil berteriak-teriak dengan suara khasnya...LEMPEEERRRRRRRR!!!!!!!!!!!

Gulali. Sumber Foto: Google  



Gurileum. Sumber Foto: Google


Di TK-SD Priangan, ada satu momen yang selalu membuat tegang para siswa. Apakah itu? Momen saat sedang konsentrasi belajar, tiba-tiba datanglah ‘sang peri gigi’ alias pak dokter gigi yang memberikan kartu pemeriksaan gigi ke wali kelas. Pertanda...bakal ada yang dicabut giginya!!!!! Hihi..seru, ya.  

Buat saya pribadi, TK-SD Priangan bukan sekedar tempat belajar. Ternyata, TK-SD Priangan menjadi tempat ‘reuni tak resmi’ antara ayah saya dan teman-temannya jaman kuliah dulu. Kenapa begitu? Yap!! Saat mengantar jemput anaknya tanpa diduga bertemu dengan ‘genk’ nya, yang sudah lama tak bersua, yang juga mengantar jemput anak-anaknya. Dan...tradisi seperti ini berlanjut pada teman-teman se-angkatan.

Begitu banyak kisah manis dan lucu saat berada di TK-SD Priangan. Sekolah tersebut tidak hanya tempat untuk menuntut ilmu tapi juga ‘rumah’ saat kami mengalami masa-masa tumbuh dan berkembang. Akankah kisah-kisah tersebut hilang begitu saja? Tidak!! Masa depan boleh berubah tapi sejarah masa lalu tidak akan pernah berubah. Dan kami siswa-siswi TK-SD Priangan tidak akan melupakan sejarah itu.

Di Sekolah ini Kami Bertumbuh. 
 
Sumber Foto: Google