Selamat Datang di Blog milik TINEKE SEPTIANA RAMDHANI

Minggu, 02 April 2017

KEAJAIBAN ITU BERNAMA UMRAH

Semua umat Islam berkeinginan berkunjung ke tanah suci Arab Saudi untuk menunaikan ibadah haji atau umrah. Tak jarang keinginan itu hanyalah keinginan semata mengingat tingginya biaya kedua ibadah tersebut. Untuk menabung pun dibutuhkan waktu yang tidak sebentar. 

Saya pun merasakan hal seperti itu. Bukan hanya masalah biaya tapi juga merasa diri belum pantas untuk menunaikan ibadah tersebut. Ibadah sehari-hari rasanya belum khusyu. Baca Al Quran pun belum lancar dan boleh dikata saya jarang menyentuh kitab suci itu. Bahkan terpikir untuk berangkat kesana  pun tidak pernah.
King Abdul Aziz Airport, Jeddah


Begitulah...hari demi hari..mimpi saya adalah keliling Eropa bukan ke tanah suci. Sampai akhirnya di tanggal 1 Januari 2017, hari pertama di tahun 2017, dapat telepon dari kerabat yang tinggal di Jakarta. Kabarnya adalah ‘Mau menyampaikan amanat bahwa kamu akan berangkat umrah di bulan Februari 2017’ Mendapat kabar seperti itu..sungguh..speechless banget. Seperti kehilangan kesadaran. Tidak pernah menyangka dapat ‘rejeki nomplok’  Pada akhirnya, keluar juga sebuah kalimat dari mulut saya ”Gua belum punya paspor!!!!”  Itulah ekspresi pertama setelah ‘kehilangan kesadaran’ beberapa saat.
Sholat beratapkan payung elektrik, Masjid Nabawi, Madinah


Jadi ingat beberapa hari sebelumnya. Bertemu teman kuliah yang bekerja di Kuala Lumpur. Karena berlibur ke Indonesia jadinya mengajak reunian. Bukan  reuni besar-besaran sih. Hanya berkumpul di tempat angkringan. Teman tersebut cerita bahwa dia akan mendaftarkan diri untuk menjadi nasabah tabungan umrah. Yang menjadi agen marketingnya masih teman satu kampus juga. Sambil ‘say hello’ dan sedikit nostalgia tentang kegiatan waktu kuliah, teman yang jadi agen marketing umrah tersebut menceritakan tentang pekerjaannya. Lagi-lagi tidak terlalu tertarik untuk umrah maupun haji karena sadar diri akan keadaan pribadi yang belum terlalu relijius. Akhirnya..pertemuan itu berakhir dan saatnya untuk membayar pesanan. Di kasir, teman yang menjadi agen umrah itu berkata pada pegawai kasir, “Mas, teman saya mau umrah, lho.”  Petugas kasir lalu menimpali “Kapan umrahnya?”  Iseng, saya yang jawab “Bulan Depan.”  Petugas kasir membalas “Jangan lupa oleh-oleh air zam-zamnya, ya.”  Namanya juga obrolan yang tidak terlalu serius. Jadinya tidak terlalu dipikirkan dampaknya. Ternyata, pepatah yang mengatakan ‘Hati-hati dengan ucapan karena bisa menjadi doa’ adalah benar adanya. Dan itu memang terjadi. Sebulan setelah pertemuan itu, saya dapat undangan untuk pergi ke tanah suci. Allahu Akbar!!!!

Berharap berkah air zam-zam, Masjid Nabawi, Madinah

Singkat cerita, kegiatan pun disibukkan dengan bolak-balik ke imigrasi untuk membuat paspor, vaksin meningitis dan pengurusan bagasi. Akhirnya, tibalah waktunya untuk berangkat. Tanggal 9 Februari 2017 saya dan anggota keluarga lainnya terbang menuju Abu Dhabi selama 8 jam 20 menit dan melanjutkan perjalanan menuju Jeddah yang memakan waktu dua jam. 

Sesampainya di Jeddah, dengan menggunakan bis perjalanan dilanjutkan menuju Madinah melewati area yang penuh padang pasir. Di bis pun masih belum percaya bahwa saya sudah menginjakkan kaki di tanah suci. Melihat keadaan sekitar yang gersang tanpa pepohonan dan penuh padang pasir bahkan seperti tidak nampak ‘tanda-tanda kehidupan’, belum terbayang kota Madinah seperti apa. Selama perjalanan, Pak Habib yang membimbing para jamaah, bercerita sekilas tentang apa itu umrah. 

Salah satu sudut kota Madinah


Tak terasa, akhirnya bis memasuki kota Madinah. Terlihat banyak gedung bertingkat, kendaraan yang lalu lalang, bahkan under pass pun ada di Madinah. Sampailah rombongan di hotel tempat menginap. Sebelum memasuki hotel, Pak Habib menunjukkan letak Masjid Nabawi yang berada tepat di depan hotel. Saat melihat payung elektrik yang sering dibicarakan oleh orang-orang yang sudah berkunjung, kembali speechless. Datang ke tanah suci tanpa bekal pengetahuan yang cukup tentang umrah. Ternyata Allah menempatkan saya dan rombongan langsung di depan Masjid Nabawi. Sungguh..Allah begitu cinta akan umat Nya walaupun umat Nya belum terlalu khusyu dalam beribadah. Saya dan rombongan tiba di hotel pada hari jumat siang. Setelah menempati kamar hotel, diberi kesempatan untuk beristirahat sejenak dan mempersiapkan diri untuk sholat jumat. Di tanah suci, sholat jumat tidak hanya bagi kaum adam. Kaum hawa pun menunaikan sholat jumat.
Masjid Nabawi, Madinah Al Munawwarah

Saya menunaikan ibadah umrah di bulan Februari, sedang musim dingin. Tapi matahari bersinar terik jadi hawa dingin itu tidak terasa menggigil di badan. Saat pertama kali menginjakkan kaki di Masjid Nabawi, masih terasa biasa-biasa saja. Tidak ada hal yang istimewa. Masjid ini sering terdengar dari cerita orang-orang. Hanya mendengar dan tidak pernah bermimpi akan berkunjung. Tanpa diduga, bisa menginjakkan kaki di masjid yang rasanya hanya ada di negeri dongeng. Ketika mencari shaf kosong untuk shalat, saya menempati shaf yang tepat di mulut pintu Masjid Nabawi. Saya duduk bersebelahan dengan jamaah umrah asal Kuwait. Iseng-iseng coba menyapa dengan bahasa Inggris. Responnya positif. Iiiihhh...senangnya bisa bertemu dengan saudara seiman dari negara lain. Semoga bisa bertemu kembali dengan ukhti dari Kuwait. Selesai shalat, saya dan rombongan kembali ke hotel sambil melihat-lihat toko-toko yang ada di sekitar masjid. Begitulah orang Indonesia. Dimanapun berada tidak pernah lepas dari acara ‘cuci mata’ sekedar untuk melihat-lihat ataupun berbelanja. 

Pasar Kurma, Madinah


City Tour


Sekitar tiga hari berada di Madinah. Tentunya tidak hanya berdiam diri di Masjid Nabawi, ya. Ada jadwal city tour kota Madinah. Tempat yang dikunjungi adalah Masjid Quba, Masjid Qiblatain, dan tentu saja Pasar Kurma. Selama berada di Madinah, sangat terkesan dengan warganya yang fasih berbahasa Indonesia. Bahkan, ketika mengunjungi Masjid Quba ada beberapa pedagang memawarkan barang dagangannya sambil berkata ”Ya..gamisnya. Murah..murah..boleh dibayar dengan uang rupiah. Harganya hanya 50 ribu saja.”   Saking banyaknya warga Madinah fasih berbahasa Indonesia rasanya seperti berada di Indonesia bukan di Arab. Dan yang paling merasa terkesan saat memasuki toko perhiasan perak di dekat Masjid Nabawi. Salah satu penjaga toko bertanya dengan bahasa Indonesia yang fasih.
 (+)“Indonesianya dimana?”
 (-) Saya jawab “Dari Bandung.”
 (+) “Oh, Bandung, ya. Sebelah mana Bandung nya?”
 (-) “Daerah Pasteur”
 (+) “Tahu daerah Kiara Condong?”

Wakwawwww....kok bisa tahu Kiara Condong?  Ternyata ‘Pangeran Madinah’ itu pernah berkunjung ke Bandung. Temannya tinggal di Kiara Condong. Tak lupa, beliau pun menyapa dengan sapaan  orang Bandung yang khas “Damang?” Sesudah bercakap-cakap, saya pun memutuskan untuk kembali ke hotel. Sebelum berpisah, ‘Pangeran Madinah’ itu bertanya lagi “Kalau bala-bala masih ada?”  Eh, buset..la buset-buset...gorengan bala-bala yang merupakan cemilan kampung ternyata disukai si 'Pamgeran Madinah'.  I am sorry to say kalau beliau ‘Pangeran Madinah’ tampangnya itu, lho bo...guuaaannnnteeennnggg!!!! (hush..hush...waktunya ibadah..bukan ngeceng)

Masjid Bir Ali, Madinah


Yuk..ah..yuk..ah..harus segera berkemas karena esok hari harus check out untuk bertolak ke kota Mekkah. Perjalanan Madinah-Mekkah memakan waktu 5 jam. Sejak check out, para jamaah sudah diwajibkan berihram. Dalam perjalanan, pembimbing umrah menjelaskan tentang tata cara berniat umrah yang akan dilaksanakan di Masjid Bir Ali sebagai lokasi Miqat. Saat tiba di Masjid, para jamaah melaksanakan shalat sunat tahiyatul masjid dan mengucapkan niat untuk berumrah. Perjalanan pun dilanjutkan menuju kota Mekkah. Sesampainya di hotel, para jamaah diberi waktu untuk beristirahat sejenak dan mempersiapkan diri untuk segera berangkat ke Masjidil Haram yang jaraknya 500 meter dari hotel tempat menginap.
Terharu!!!!! Ka 'Bah

Akhirnya...saya dan jamaah lainnya berangkat ke Masjidil Haram dengan berjalan kaki. Sambil berjalan, Pak Habib membimbing jamaah untuk berdzikir. Tak terasa, sampailah di Masjidil Haram.  Pelan-pelan, memasuki masjid melalui King Fahad Gate. Lama-lama...terlihat bangunan yang selama ini selalu dilihat di sajadah..Ka’Bah!  Allahu Akbar...tak terasa air mata menetes. Bermimpikah saya? Yang di depan itu betul-betul Ka ‘Bah, kan? OMG!!!!! Inilah keajaiban. Sambil mengelilingi Ka’Bah..masih tetap belum percaya akan berada dihadapan titik peribadatan umat muslim. Hanya beberapa langkah di depan mata. There, I successfully touched Ka 'Bah!!!!! ( makin berlinang air mata...) Kapan ya..bisa kesini lagi?

Apakah selama di Mekkah hanya mengerjakan thawaf dan sa’i? Oh, tentu tidak. Ada kegiatan city tour juga seperti di Madinah. Tempat-tempat yang dikunjungi adalah Arafah yang merupakan lokasi Jabal Rahmah berada. Tempat bertemunya kembali Nabi Adam dan Siti Hawa di dunia setelah berpisah sekian lama. Karena hal itu, konon yang ingin mendapatkan jodoh, banyak-banyaklah berdoa disini agar segera dipertemukan dengan jodohnya. Aamiin!!!! Dari Arafah, perjalanan dilanjutkan ke Mudzdalifah dan  Mina. Sayangnya..di dua area ini, rombongan tidak berhenti untuk mampir karena keadaannya sangat sepi tanpa penduduk. Dua area ini akan ramai saat musim haji. Musim haji usai, maka area-area tersebut akan sepi kembali.
Jabal Rahmah, Arafah, Mekkah Al Mukaromah

Keadaan geografis Arab Saudi yang berbukit-bukit, maka tidaklah heran para jamaah akan sering menemui perbukitan. Saat di kota Mudzdalifah dan posisi rombongan mendekati kota Mina, Pak Habib yang jadi pembimbing tur menunjukkan tangannya ke arah atas perbukitan. Disitu terlihat sebuah tugu. Tugu apakah itu? Tugu itu adalah tanda bahwa di tempat itu beberapa abad silam Nabi Ibrahim akan menyembelih putranya, Nabi Ismail. Sungguh..setelah melihat langsung tempat-tempat tersebut makin yakin bahwa kisah-kisah dalam Al Quran bukan semata dongeng tapi memang nyata. Dan saya bersaksi akan kenyataan dari kisah-kisah Al Quran.

Dalam kegiatan city tour di kota Mekkah, para jamaah diberi kesempatan untuk melaksanakan umrah kembali. Bisa untuk diri sendiri maupun untuk keluarga yang sudah berpulang. Saya memutuskan untuk umrah kembali agar bisa mengumrahkan ibu saya yang sudah berpulang. Akhirnya, rombongan tiba di Masjid Tan’im sebagai lokasi miqat. Untuk kaum lelaki, kembali mengenakan kain ihram sedangkan untuk wanita, berihramnya bisa mengenakan pakaian yang saat itu sedang dipakai walaupun pakaian itu tidak berwarna putih. Diawali dengan shalat sunat tahiyatul masjid dan shalat dhuha. Tak lupa mengucapkan niat berumrah atas nama sendiri bagi yang berumrah untuk diri sendiri dan niat berumrah atas nama seseorang bagi yang akan mengumrahkan orang lain. 
Pusat Kota Jeddah

Sekitar 4 hari saya dan jamaah menghabiskan waktu di Mekkah. Tiba saatnya untuk kembali ke tanah air. Sebelum check out, para jamaah melakukan thawaf wada yaitu thawaf perpisahan. Thawaf ini tidak dibarengi dengan sa’i. Menyempatkan diri berucap janji di depan Ka ‘Bah bahwa saya akan kembali ke tempat ini tahun depan. Semoga Allah mengijinkan.
Selama di tanah suci, soal makanan jangan khawatir karena sudah disediakan. Bukan hanya saat di hotel tapi juga di bis saat melaksanakan city tour. Namun, ada menu yang dirindukan. Untuk orang Bandung seperti saya, rasanya ada yang kurang jika tidak ada menu baso dan mie baso. Dan..menu baso itu saya dapatkan saat dalam perjalanan menuju Jeddah sesudah check out dari hotel di Mekkah. Ada penjual makanan yang menggunakan merek ‘Baso Mang Oedin’  Penjual baso yang sangat terkenal di Jeddah. Pemiliknya adalah warga Arab asli yang sangat fasih berbahasa Indonesia. Di pintu masuk menyapa pengunjung sambil berteriak-teriak..”Ya..basonya Mang Udin..silakan masuk!!!!!” Dengan mematok harga 12 real, baso ini dipenuhi pengunjung yang mayoritas adalah jamaah dari Indonesia. Hahaha...seru, ya..menu baso pun ada disana. Plus...ada merek 'Bandung Asli'   Bandung Memang Juara!!!!! Terkenal sampai Arab.

Pusat Kota Jeddah

Kesan yang saya dapatkan adalah ibadah umrah bukan hanya sekedar ritual ibadah tapi juga ibadah yang mempersatukan umat muslim di seluruh dunia dengan bahasa yang sama yaitu bahasa Alquran dan satu gerakan yang sama yaitu gerakan shalat. Itu saya rasakan pada saat saya melakukan ibadah shalat, seringkali saya shalat berdampingan dengan saudara seiman dari Turki, India, Pakistan dan Bangladesh. Bahkan saat di hotel di Mekkah, saya bertemu dengan saudara seiman dari Irak dan Tunisia. Karena saya berwajah Asia, banyak yang mengira bahwa saya adalah jamaah dari Malaysia. Senang rasanya saling sapa dengan mereka. Bahasa boleh beda. Budaya boleh beda. Negara boleh beda. Namun hanya sekedar menyapa “Assalamu ‘alaikum” pertemanan itu langsung terjalin. Rasanya sudah kenal bertahun-tahun lamanya. Islam memang Indah, ya. 

Hikmah dari perjalanan ini bahwa Allah sangat mencintai umat Nya. Allah tidak pernah kemana-mana. Umat Nya yang selalu kemana-mana. Saya yang tidak pernah bermimpi ke tanah suci, ternyata Allah takdirkan untuk datang ke tanah suci. Percayalah pada Nya. Yang memiliki banyak uang belum tentu akan berkunjung ke tanah suci. Yang memiliki uang pas-pas an belum tentu tidak akan mengunjungi tanah suci. Semua ini adalah undangan dari Nya. Tetaplah bekerja dan berkarya dengan niat untuk ibadah. Niscaya keajaiban ke tanah suci bukanlah hal mustahil.

Labbaika Allahumma Labbaik... 






Senin, 17 Oktober 2016

Kami Bertumbuh Bersama


Kisah ini berawal di pertengahan tahun 1990. Kenapa pertengahan tahun...karena sudah tradisi bahwa pertengahan tahun adalah waktunya memasuki tahun ajaran baru. Bagi saya, tahun tersebut bukan hanya memasuki tahun ajaran baru tapi juga belajar di sekolah baru. Sekolah dengan jenjang pendidikan yang lebih tinggi yaitu SMP (Sekolah Menengah Pertama). Pertengahan tahun 1990 saya diterima di SMP pilihan saya, SMP Negeri 7 Bandung yang berlokasi di jalan Ambon 23. 


Selama tiga tahun belajar di SMP 7, ada banyak hal yang saya dapatkan. Suasana belajar yang berbeda dengan suasana saat masih duduk di bangku sekolah dasar yaitu 

  1. Tiap ganti mata pelajaran maka gurunya pun berganti. 
  2.  Ulangan harian di selembar kertas. 
  3. Kegiatan ekstrakurikuler yang beragam.
  4.  Teman-teman yang lebih banyak dengan karakternya yang berbeda-beda. 
  5. Dan..jajanan yang lebih bervariasi. (heuheu..hidup itu kurang seru kalau tidak ada jajanan)
Kenangan 1990-1993 yang saya ingat adalah saat saya dan teman-teman sering jajan di Badranaya yang berlokasi di jl. Aceh. Tak jauh dari sekolah. Sayangnya sekarang tempat itu sudah berubah menjadi hotel. Selain tempat tersebut, ada juga pedagang mie baso Mang Tori. (trus..dimana sekarang Mang Tori? Ada yang tahu?)


Yang suka menu soto, ada penjual soto yang dagang dekat kantor pos. Namanya Sogo alias Soto Gope (haaiiisss...sungguh sebuah nama yang unik). Tak jauh dari situ ada tempat makan dengan menu gudeg yang merupakan cikal bakal Gudeg Banda. (Salah satu kekayaan kuliner di kota Bandung)
By the way...masih ingatkah dengan MM Sabang? Tempat yang menjual kebutuhan alat-alat tulis selain fesyen tentunya. MM Sabang pun sudah tak ada. 
Trus..trus...siapa sih guru favorit selama SMP? Bukan cuma guru favorit tapi juga guru galak. Siapa sih yang dulu suka dicubit kalau atribut seragamnya tidak lengkap? (dasi, logo osis, nama di seragam, identitas sekolah di lengan kanan). Jawabannya pasti beragam. Semoga guru-guru kita dalam keadaan sehat wal afiat.

Tiga tahun terasa sebentar. Rasanya belum puas menjalani hari-hari di SMP. Namun waktu terus berjalan. Tiap individu butuh untuk tumbuh berkembang. Tahun 1993 adalah waktunya mengakhiri masa belajar di SMP untuk melanjutkan ke jenjang SMA. Perpisahan di tahun 1993 bukanlah akhir. Melanjutkan ke SMA yang berbeda tidak menghalangi untuk tetap berkomunikasi. Saat itu memang belum booming telepon genggam. Berkomunikasi lewat telepon rumah masih dilakukan. Beberapa dari kami bahkan masih satu sekolah dengan teman SMP.


Hingga akhirnya hadirlah telepon genggam yang diikuti oleh media sosial facebook dengan fasilitas grup. Dua media itu menjadi alat komunikasi dalam kehidupan sehari-hari. Mendekatkan yang jauh. Maklumlah..masing-masing sudah memiliki kehidupannya sendiri yang mengakibatkan sulitnya untuk bertemu secara fisik alias kopi darat.

Tak terasa sudah 23 tahun lamanya lulus dari SMP. Tentu saja saya dan teman-teman sudah mengalami perkembangan. Tanggal 8 Oktober 2016 diadakan reuni di kampus tercinta. Oww...serasa jadi anak SMP kembali. Apalagi keadaan di bagian dalam banyak yang berubah. Jadi pangling. Bukan cuma pangling dengan keadaan lokasi. Pangling juga dengan teman-teman lama. Jangan heran saat bertatap muka, satu sama lain saling bertanya “Ini siapa, ya?” “Dulu dari kelas mana?” Kepanglingan itu 'memaksa' untuk langsung membuka-buka buku alumni saat sampai di rumah untuk mengenali kembali teman-teman lama. 



Tapi...ada momen yang mengharukan. Ada beberapa teman yang tidak bisa hadir karena sudah berpulang ke haribaan Nya. (Beristirahatlah dengan tenang, kawan).

Apakah sesudah reuni ‘say good bye’ begitu saja?  Oh..tentu tidak.. Reuni 23 tahun merupakan ‘pre silver reunion’ yang akan dilaksanakan dua tahun yang akan datang. Seperti apa konsep ‘silver reunion’? Kita tunggu saja. So, guys...see you in the next two years. Hopefully, the silver reunion will be more cheerfull. Can’t hardly waiting.     


Jumat, 30 September 2016

Riungan OMG Bandung, Kumpul Komunitas Praktisi Bisnis Online

Rabu, 28 September 2016,  ada acara pertemuan bulanan yang diselenggarakan oleh komunitas Online Marketer Group Bandung (OMG Bandung) yang biasa disebut riungan. Sebuah komunitas para praktisi bisnis online asal kota Bandung. Namun riungan kali ini dikemas secara istimewa karena selain pertemuan rutin bulanan sekaligus juga merayakan 5 tahun berdirinya Event Organizer (EO) Positive + Management. Sebuah event organizer yang membidani lahirnya komunitas tersebut.

Sumber Foto: Didin Wahidin - Facebook

Bertempat di Hotel House Jl. Sangkuriang, acara yang dipandu oleh Dinar Sudianto, owner dari Positive + Management dikemas secara apik berupa diskusi dan talkshow interaktif bertemakan Bandung Lautan Online dengan mengundang lima narasumber yang juga anggota komunitas tersebut.

Kelima narasumber tersebut adalah
1. Kuwat Subarja, owner dari Ichi Bento Fast Food
2. Ayatullah Fahd, Pakar Youtube Marketing
3. Agustina, Konsultan Restoran Indonesia
4. M. Maulana Faisal, Pakar Twitter Marketing
5. M. Rizky Maulana, Pangeran Tokopedia

Ki-ka: Bapak Kuwat Subarja, Kang Agustina, Ayatullah Fahd, M. Maulana Faisal, M. Rizky Maulana  Sumber Foto: Didin Wahidin - Facebook

Dalam kesempatan tersebut masing-masing narasumber membagi pengalaman dan kisah suksesnya dalam menjalankan bisnisnya baik secara online maupun offline.
Dua dari lima narasumber memberikan ilmu yang harus dimiliki bagi yang ingin menjalankan bisnisnya.

Bapak/Kang Agustina memberikan ilmu berupa 'Empat Disiplin Sukses Berbisnis' yaitu

1. Kuasai Pemasaran
    Tiap pebisnis harus bisa menguasai selling skill. Dalam hal ini termasuk juga dalam komunikasi dan negosiasi.

2. Kuasai Cash Flow
    "Cash Flow is The King"
 Dengan cash flow, seorang pebisnis harus bisa mengatur dan mengawasi pengeluaran dan pemasukkan yang merupakan 'nyawa' dari bisnis itu sendiri. Jangan sampai pengeluaran lebih besar daripada pemasukkan.

3. Kuasai Bussiness Skill
    Keahlian ini mencakup
- Menguasai tim: Apakah seorang pebisnis sudah memimpin tim?
- Keuangan: Apakah kita sudah menguasai ilmu keuangan?
- Operasional: Sudah memiliki sistemkah bisnis kita?
- Pemasaran: Sudah membidik target konsumen yang tepatkah bisnis kita?

4. Disiplin Waktu
- Rencanakan semua kegiatan sebelum memulai hari ini
- Tulis dan baca janji serta tujuanmu
- Selesaikan apa yang dapat dikerjakan saat ini

Sementara itu, Pak Kuwat Subarja, yang memiliki pengalaman dalam mengimpor produk memberikan kiat-kiatnya yaitu:

1. Untuk menjadi pebisnis tidak harus punya pengalaman
2. Pembayaran harus dilakukan secara tunai. Jangan sampai pembayaran dilakukan secara kredit
3. Bisnis itu sebaiknya didelegasikan. Dalam hal ini team work yang solid sangat dibutuhkan
4. Pada saat bisnis mulai berkembang, bukalah cabang sebagai bentuk investasi. Seringkali terjadi outlet yang pertama kali dibuka perkembangannya tidak sebesar outlet cabang.
5. Bisnis itu harus punya ilmu. Datangkanlah pelatih dan ikuti pelatihan. Seorang Muhammad Ali pun masih membutuhkan pelatih untuk menjaga prestasinya.

Para tamu sibuk menyimak. Sumber Foto: Didin Wahidin - Facebook
Narasumber yang lain pun menceritakan awal mulanya mereka terjun dalam dunia bisnis.

Ayatullah Fahd yang kini dikenal sebagai Raja Youtube awalnya hanyalah operator warnet yang hobi mengunduh gambar-gambar desain dari internet disela-sela pekerjaannya dan mengawali bisnisnya dibidang percetakan dengan bermodalkan satu komputer dan satu printer. Lambat laun bisnis yang tadinya hanya dikerjakan secara offline, omsetnya pun bertambah saat dipromosikan secara online.

Maulana Muhamad Faisal yang awalnya berjualan di kelas lapak kaki lima bisa memasarkan produknya ke Malaysia, Singapura dan Hongkong melalui media sosial twitter, facebook dan instagram hanya dengan menuliskan kata 'kirim ke....(nama tujuan pengiriman)' dalam postingan iklannya.

Muhammad Rizky Maulana mendapatkan omset ratusan juta dari memasarkan produknya melalui tokopedia.

Maulana Muhamad Faisal dan Muhammad Rizky Maulana adalah fresh graduate yang memulai bisnisnya saat masih di bangku kuliah. Karena pencapaian bisnisnya, setelah lulus mereka berdua tidak sibuk mencari pekerjaan tetapi membuka lapangan kerja dengan berbisnis online.

Dinar Sudianto - Owner dari Positive Plus Management bertindak sebagai moderator acara. Sumber Foto: Didin Wahidin - Facebook

Sementara itu Dinar Sudianto memberikan tipsnya dalam berbisnis yaitu '4 Jangan' yang dilakukan dalam berbisnis, yaitu:
JANGAN BERBISNIS dengan
1. Tetangga
2. Saudara
3. Teman
Hindari berbisnis dengan ketiga kelompok tersebut karena biasanya sering terjadi 'boleh nyicil, ya' 'boleh ngutang, ya' yang pada akhirnya cicilan dan hutang tidak pernah dilunasi.
Lalu 'Jangan yang ke-4' apa?
4. Mantan (Kalau ini jelas berbahaya. Bisa terjadi CLBK alias Cinta Lama Belum Kelar. Heuheu.. take it easy, pals)

Akhirnya, dari diskusi interaktif tersebut bisa diambil kesimpulan. Kita semua bisa berubah dari Nobody menjadi Somebody. Tinggal mencari apa yang menjadi passion mu. Interest mu di bidang apa. Awali segala sesuatu dari yang kau sukai, kau cintai. Lama-lama akan terlihat perkembangannya.

Selamat Ulang Tahun untuk Positive + Management. Semoga selalu senantiasa positif apalagi hari jadinya dirayakan di bulan September Ceria. Mengantarkan OMG Bandung untuk selalu juara.













Sabtu, 27 Agustus 2016

Kumpul Komunitas di Hari Sabtu Yang Indah

Sabtu, 27 Agustus 2016, saya menghadiri acara 'Kumpul dan Sharing Kreator Konten Indonesia' yang diselenggarakan oleh Mitologi Media. Berlokasi di Grapari Digilife, acara dimulai pada jam 10 pagi. Acara yang menghadirkan coach Dedy Dahlan -penulis buku INI CARA GUE-berdiskusi tentang bagaimana menghasilkan uang dari Blog dan YouTube. 
Dalam momen tersebut terjadi diskusi santai namun menarik antara Dedy Dahlan dan peserta. Sebagian besar peserta ada yang sudah menekuni blog, menekuni youtube. Bahkan ada yang belum menekuni keduanya. Tapi...itu tidak menjadi masalah. Dengan menyempatkan diri untuk hadir di acara itu berarti ada keinginan untuk menjadi bisa.

Ada beberapa peserta yang sudah memiliki akun blog dan channel youtube. Saat ditanya oleh pembicara, rata-rata mengerjakannya hanya sebagai lucu-lucuan dan belum tahu akan fokus di topik atau bidang apa konten blog dan youtube mereka.

Nah...di acara ini Dedy Dahlan mengarahkan para peserta sebaiknya mereka memilih konten sesuai dengan style dan interest nya.  

"Mulailah dari yang kalian suka. Lama-lama akan ketahuan kok style kalian dalam membuat konten itu lebih mengarah kemana." ucap Dedy Dahlan.
Ya..mulailah dari yang kalian suka, jangan terlalu sibuk akan teknis pengerjaan. Seseorang yang terlalu memikirkan teknis biasanya tidak akan pernah action

Selain itu, Dedy Dahlan juga membagikan sedikit ilmunya tentang google adsense. Proses-proses yang harus dilakukan saat mengerjakan adsense dipaparkan di acara ini. Tetap...yang tidak dilupakan adalah membuat konten yang menarik agar trafik blog dan youtube nya selalu tinggi. Syarat agar trafiknya tetap tinggi, selain konten yang menarik juga harus google friendly yaitu menggunakan kata kunci hasil riset di google dalam isi kontennya. 

Sungguh...sebuah acara yang sangat menarik. Semoga bisa dilaksanakan secara rutin dan melahirkan banyak blogger dan youtuber yang berbakat.



Kamis, 25 Agustus 2016

Mang Udin, Penjual Batagor Yang Melegenda

Hai!!!!!..
Kali ini artikel yang ditulis akan menceritakan seorang bapak yang bersahaja. Siapakah dia? Mang Udin. Siapa Mang Udin itu?

Well...mungkin belum semua orang tahu siapa beliau. Bagi warga yang tinggal di wilayah jalan Cilaki, jalan Rasamala dan jalan Kihiur, Mang Udin sudah kesohor. Terutama bagi orang tua siswa SD Priangan Bandung yang mengantar jemput anak-anaknya. Saat menunggu jam sekolah selesai, para ortu akan berkumpul di Taman Cilaki sambil bersantap batagor buatan Mang Udin. 

Mang Udin pertama kali berjualan di area ini saat saya masih di kelas 2 SD Priangan. Itu artinya sekitar tahun 1985-1986. Wow...!!!!! sudah lama banget, ya. Maka dari itu, Mang Udin bukan hanya penjual batagor tapi juga 'bapaknya' anak-anak. Sampai sebagian dari kami memiliki anak dan menyekolahkan anak-anaknya di sekolah yang sama dengan orang tua nya. Berarti selama berdagang batagor, Mang Udin sudah beranak-cucu.

Sikap Mang Udin yang ramah membuat betah untuk duduk berlama-lama menikmati batagor buatannya. Dengan mematok harga Rp. 1.500/buah, batagornya tidak terasa mahal. Adonan yang menjadi isi batagor pun terasa enak.

Karakter Mang Udin yang bersahabat membuatnya dirindukan banyak orang. Banyak para alumni SD Priangan yang datang ke Taman Cilaki hanya untuk menikmati batagor buatannya sekaligus bernostalgia masa-masa di SD Priangan. Tidak jarang Mang Udin diundang tiap kali alumni SD Priangan berbagai angkatan mengadakan acara reuni. Mang Udin diundang lengkap dengan gerobak batagornya. Huhuy...unik, ya.

Take the lesson..kenapa Mang Udin begitu dirindukan? Bukan semata batagornya yang murah dan enak. Tapi karena kebersahajaan Mang Udin dan menganggap para pembeli sebagai keluarganya yang membuat Mang Udin selalu dicari. Semoga kita bisa menirunya. Mang Udin memang hanya penjual batagor tapi beliau mengajarkan banyak hal kepada orang-orang tentang kehidupan yang sebenarnya.










Selasa, 23 Agustus 2016

Bahasa Inggris Bukanlah Nightmare

Wah...judulnya serem amat, ya. Bagi yang belum menguasai Bahasa Inggris dengan baik dan benar, bisa jadi memang nightmare. Begitu juga yang saya alami dulu.


Based on my experience,pertama kali belajar Bahasa Inggris saat kelas 1 SMP (sekarang kelas 7). So, excited. Tapi...ada yang bikin semangat itu 'padam'. Ow..!!!! Ternyata di Bahasa Inggris ada aturan TENSES yang tidak saya temui dalam Bahasa Indonesia. Sempet kehilangan mood deh. Susah banget, gitu. Dalam Bahasa Indonesia, tidak ada perubahan kata saat mengalami perubahan waktu. Dampaknya...Bahasa Inggris adalah mata pelajaran yang paling tidak disukai saat masa-masa di bangku SMP dan SMA. Disuruh ikut les Bahasa Inggris pun tidak mau. Saking gak sukanya sama Bahasa Inggris.



Sampai akhirnya saat lulus SMA saya tidak tahu harus melanjutkan kemana dan ibu saya pun memutuskan saya sebaiknya kuliah di STBA (Sekolah Tinggi Bahasa Asing) Yapari ambil jurusan Bahasa Inggris. Kebayang, dong gimana rasanya harus berkuliah di perguruan tinggi yang subjek kuliahnya tidak pernah saya sukai.

Sepertinya ibu saya tahu apa yang terbaik untuk saya. Ibu saya tahu saya akan menjadi apa. Pelan-pelan...saya ikuti perkuliahan Bahasa Inggris. Lama-lama...Bahasa Inggris menyenangkan juga, ya. Apalagi materi TENSES yang membuat saya tidak menyukai Bahasa Inggris bisa saya pelajari dengan fokus. Ya...FOKUS!!!

Kenapa bisa tidak fokus? Karena saat belajar di bangku SMP dan SMA, dihadapkan pada keadaan untuk bisa menguasai semua bidang studi. Padahal..We can not excel at everything.

Nah...karena bisa fokus di satu bidang studi, akhirnya saya bisa memahami Bahasa Inggris dengan baik.

Awalnya ambil jenjang Diploma 3 dan melanjutkan ke jenjang Strata 1. Mudah-mudahan bisa ambil jenjang Strata 2. Dan saya sudah tahu jurusan apa yang akan saya ambil. LINGUISTICS!!!! Jurusan yang akan membahas materi Bahasa Inggris lebih mendalam lagi.

Dulu..saya benci Bahasa Inggris
Sekarang..saya cinta Bahasa Inggris

Thanks to My Mom..yang sudah mengarahkan dan membimbing untuk mencintai Bahasa Inggris. May you rest in peace, Mom.




Senin, 22 Agustus 2016

Teman Lama Adalah Emas, Teman Lama Adalah Aset

Setiap manusia mengalami perubahan dalam hidupnya. Sejak bayi hingga dewasa. Perubahan itu bukan hanya sekedar pertumbuhan fisik tetapi juga perubahan dalam hal pendidikan. Mulai pendidikan pra sekolah hingga pendidikan di jenjang yang lebih tinggi. Lingkungan yang berganti, teman pun bertambah.

Seringkali kita dengar istilah 'Jangan Pernah Lupakan Teman Lama.' Ya, istilah ini ada benarnya. Teman lama adalah teman yang paling banyak mengenal siapa kita sebenarnya. Dan ini terbukti tiap kali saya berkumpul dengan teman-teman yang saya kenal saat saya duduk di bangku sekolah dasar.

Reuni dengan banyak teman dari berbagai pendidikan yang pernah saya tempuh sering saya hadiri. Namun reuni dengan teman SD yang paling sering saya ikuti. Mungkin karena kita sudah bersama sejak dari kecil. Saat harus ditunggui oleh mama-mamanya di sekolah. Karena mama-mamanya suka ikut kumpul di sekolah, otomatis anak-anaknya jadi dekat juga dengan para mama.

Saya menempuh pendidikan dasar di SD Priangan Bandung dari tahun 1984 - 1990. Sudah 25 tahun saya dan teman-teman lulus dari SD. Sempat hilang kontak satu sama lain kecuali dengan teman-teman yang melanjutkan ke SMP dan SMA yang sama.

Kami mulai ada kontak setelah booming facebook. Saling add friend , lalu beralih ke media blackberry messenger. Saling tukar pin blackberry. Masa media blackberry beralih ke media WhatsApp. Dengan adanya fasilitas grup di masing-masing media, terjadilah percakapan seru antar teman-teman. Percakapan yang menceritakan kelakuan kami saat SD, siapa yang hobi berantem, siapa yang suka jailin guru, sampai ke percakapan 'Aku dulu musuhan sama si A' dsb.

Bukan hanya kelakuan kami di masa SD yang menjadi topik pembicaraan. Jajanan favorit saat SD pun ikut dibahas. Waahhh...sungguh tidak cukup ruang di blog ini untuk menceritakan apa yang kami alami saat SD.


Masa-masa masih polos. Masa-masa masih diantar jemput oleh orang tua masing-masing dan sebagian dari orang tua tersebut ada yang sudah berpulang.(hiks,,,) Bukan hanya orang tua yang sudah berpulang, ada beberapa teman yang juga sudah berpulang. (Semoga kalian beristirahat dengan tenang, kawan).

Dulu kami adalah anak-anak. Sekarang kami yang memiliki anak. Begitulah daur kehidupan. Akan tetap berjalan. Masa-masa yang tidak akan pernah berulang tapi sangat manis untuk dikenang. 

Teman Lama Adalah Emas, Teman Lama Adalah Aset.