Selamat Datang di Blog milik TINEKE SEPTIANA RAMDHANI

Senin, 25 September 2017

BOTRAM 2017: Serunya Perayaan Hari Ulang Tahun Bandung Yang Ke-207 Tahun




Bagi masyarakat Sunda, istilah botram adalah kegiatan makan bersama-sama sambil duduk beralaskan tikar. Biasanya berlokasi di luar rumah seperti halaman atau kebun. Namun, botram yang akan dibahas pada kali ini bukanlah botram seperti biasanya melainkan singkatan dari sebuah acara bernama Bandung Oto Trade Market yang digelar pada 23-24 September 2017.



Ki-Ka: Bapak Agus Tanjung, Bapak Oded Daniel, Mr. Shinya Takeda, Bapak Hendrayadi Lastiyoso
Acara apakah itu? Berdasarkan informasi yang diwartakan di konferensi pers yang berlokasi di Pendopo Kota Bandung, acara yang bertajuk BOTRAM 2017 diselenggarakan dalam rangka merayakan hari ulang tahun kota Bandung yang ke-207 tahun sekaligus bentuk apresiasi Daihatsu dalam merayakan ulang tahun ke-110 tahun.


Hadir dalam acara konferensi pers tersebut Bapak Oded Daniel selaku wakil walilkota Bandung, Bapak Agus Tanjung selaku General Manager Pikiran Rakyat, Bapak Hendrayadi Lastiyoso selaku Marketing & Customer Relation Division Head, PT Astra International Tbk dan Mr. Shinya Takeda selaku Corporate Planning & Communication Director PT Astra Daihatsu Motor. 
Tampilan Moko Yang Unik dan Menarik

Acara BOTRAM 2017 yang mengambil lokasi di jalan Asia Afrika Bandung menghadirkan sebanyak 110 kendaraan Gran Max yang dimodifikasi menjadi ‘Moko’ alias “Mobil Toko’ yang sangat cocok untuk mendukung kegiatan usaha. Para pelaku usaha yang menjadi peserta acara, menghias ‘moko’ nya dengan desain yang semenarik mungkin. Para pelaku usaha yang ikut berpartisipasi adalah yang bergerak dalam bidang fesyen dan kuliner. Namun ada juga  pelaku usaha dari bidang jasa.


Seblak Saritem
Dari sekian banyak ‘moko’ , ada satu ‘moko’ yang menarik perhatian. ‘Moko’ yang satu ini bergerak di bidang usaha kuliner dan diberi nama ‘Food Truck SARITEM’ Kita semua tahu bahwa nama SARITEM identik dengan sesuatu yang negatif karena nama tersebut sudah cukup lama menjadi lokalisasi praktek prostitusi. Saat ditanyakan alasannya akan penggunaan nama tersebut, pemilik food truck menjawab ingin mengangkat nama tersebut agar diingat akan hal-hal yang positifnya. Sebuah alasan yang sangat bijak. Semoga banyak yang mendukung niat mulianya tersebut. Apalagi..seblak buatannya sangat enak.. Yummy!!!! 






Acara istimewa yang dihadiri banyak pengunjung tersebut merupakan acara yang penuh kreatifitas. Itu terlihat dari desain yang diterapkan pada beberapa ‘moko’. Bukan hanya itu. Ajang ini juga seakan memanjakan warga Bandung dari kepenatan akan aktivitas sehari-hari. Tak heran, mereka datang ke acara tersebut dengan mengajak serta anggota keluarganya.  

Dalam kesempatan ini ijinkanlah untuk mengucapkan Selamat Ulang Tahun yang ke-207 bagi kota Bandung. Semoga kreatifitasnya tetap berkembang dan menjadikan Bandung Makin Juara!!











                                                

Minggu, 30 Juli 2017

Disini Kami Bertumbuh



Judul ini diadaptasi dari tagline sebuah lembaga pendidikan formal TK-SD Priangan yaitu ‘Disini Aku Bertumbuh’. Perbedaannya terletak di kata ‘Aku’ dan ‘Kami’. Saya memilih menggunakan kata ‘Kami’ dalam tagline tersebut karena itu mewakili para alumni TK-SD Priangan.

 Yang bersekolah di tempat ini akan menjalani hari-harinya selama 6 tahun. Sedangkan yang bersekolah di tempat ini sejak bangku taman kanak-kanak, menjalani hari-harinya selama 8 tahun. Bayangkan!!! 6-8 tahun. Hampir satu dasawarsa. Mulai berada di sekolah ini saat baru saja lepas dari popok dan meninggalkan sekolah ini saat mulai mengenal episode bernama jatuh cinta. Tentu banyak kenangan yang tidak akan hilang begitu saja.
                                            
Sumber Foto: Dok. Pribadi


Dimana, sih lokasi TK-SD Priangan? Sekolah yang didirikan di tahun 1957 ini berada di jl. Baros no.1 Bandung. Sebuah jalan kecil yang terletak dekat jalan Cilaki dan jalan Bengawan. Juga berdekatan dengan lapangan Supratman. Sekolah ini didirikan oleh Tante Liem Zen Liang. Siapakah beliau? Saya sendiri tidak terlalu mengenal beliau secara mendalam karena saat memasuki lembaga pendidikan ini beliau sudah berpulang ke haribaan Nya. Tetapi bukan berarti saya tidak pernah mencari tahu siapa beliau. Sepeninggal Tante Liem Zen Liang, TK-SD Priangan diteruskan pengelolaannya oleh keturunan beliau dan mempekerjakan seorang wanita sebagai kepala sekolahnya bernama Ibu FA Tulung Rotinsulu.

Saya menjalani hari-hari di TK-SD Priangan dari tahun 1984-1990. Masa kepemimpinan Ibu Tulung. Selain dua wanita yang sudah saya sebutkan, ada juga seorang wanita yang sangat berpengaruh dalam kehidupan warga TK-SD Priangan. Beliau bukan guru melainkan seorang wanita keturunan tionghoa pemilik toko kelontong. Beliau sering dipanggil dengan sebutan Encim. Seorang wanita mandiri dan terkenal akan kebawelannya. Selanjutnya, ijinkan saya untuk menceritakan satu persatu ketiga wanita hebat itu.

1.      Tante Liem Zen Liang
Pendiri TK-SD Priangan yang merupakan wanita keturunan tionghoa. Beliau mendirikan TK-SD Priangan mulai dari nol. Hingga akhir hayatnya, Tante Liem, yang memiliki nama Indonesia Ibu Djuhriah, sangat berdedikasi pada dunia pendidikan. Maka tak heran, menjelang ujian nasional (istilah jaman dulu = EBTANAS), ada tradisi bagi kelas 6 untuk melakukan ziarah ke pusara beliau yang terletak di pemakaman Cikadut. Dari mulai bersekolah hingga menyelesaikan pendidikan di sekolah tersebut, belum pernah melihat fotonya. Jadi betul-betul tidak mengetahui seperti apa rupa dari Tante Liem.  Dan saya pun berkesempatan  melihat rupa dari beliau saat mengikuti reuni SD Priangan di tahun 2010. Disitu terpampang foto beliau. ‘Oooohhh...seperti ini ya wajahnya Tante Liem’ itulah komentar saya saat melihat fotonya. 

Foto Tante Liem. Sumber Foto: Dok. Pribadi



2.      Ibu FA Tulung Rotinsulu
Kalau dengan ibu yang satu ini kenal banget. Of course, beliaulah yang menjadi kepala sekolah saat saya berada di TK-SD Priangan. Bernama lengkap Frederika Aleida Tulung Rotinsulu. Beliau sangat familiar dengan panggilan Ibu Tulung. Seorang ibu yang sangat menyayangi para siswa bagaikan anak-anaknya sendiri. Keibuan tapi tegas. Kedisiplinan sangat terasa pada masa kepemimpinan beliau. Siswa yang datang terlambat atau tidak membuat PR akan kena hukuman. Terkadang, Ibu Tulung mengunjungi kelas-kelas di sela-sela waktu bekerjanya. Ingat banget, deh..saat sedang belajar, Ibu Tulung datang ke kelas. Ada kebiasaan dari warga kelas untuk menyapa beliau dengan terlebih dahulu dikomandoi oleh KM Kelas. ‘Sikap...beri hormat!!  Warga kelas menjawab ‘Selamat Siang, Bu.’
Sikap tegas Bu Tulung bukan berarti tidak diiringi dengan kelembutan hati, lho. Pernah mengalami, orang tua lupa menjemput. Teman-teman yang lain sudah dijemput orang tua masing-masing. Panik, karena menunggu jemputan tidak datang-datang. Jadinya, hu..hu..hu..menangislah... Akibatnya, Bu Tulung ikut repot mengurusi anak yang nangis karena belum dijemput. (Hehe..Bu Tulung, maaf ya sudah merepotkan dengan tangisannya). Yang paling berkesan dari Bu Tulung bukan cuma ketegasan dan kelembutan hatinya. Tapi juga kekuatan Bu Tulung mengenakan sepatu hak tinggi selama bekerja. Wow!!! Iseng-iseng mencoba juga seperti itu. Hasilnya..MANA TAHAAANNNN!!!!!!! So, kembali ke flat shoes.
 
 Ibu Tulung saat muda. Sumber Foto: MyHeritage.com

3.      Encim
Sekarang giliran Encim. Seorang wanita mandiri keturunan tionghoa yang mengisi waktunya dengan membuka toko jajanan anak SD. Jajanan yang paling banyak dicari di tokonya adalah  kerupuk pedas yang sekarang lebih dikenal dengan nama kerupuk gurilem alias gurih dan pelem (hehew..) dan abon ikan merek Enaco (psst..gak apa-apa ya sebut merek). Abon ikan jadi jajanan favorit kedua karena dalam kemasan jajanan ini sering terdapat kupon bonus berupa jajan gratis abon ikan.. (hoorrrreeeee!!!!!). Dengan karakter yang aktif berbicara alias cerewet, seringkali Encim mengomeli anak-anak yang pada usianya senang berlari kesana kemari dan juga membuat ulah. Cerewet dan bawelnya Encim memang membuat panas telinga sekaligus dirindukan. Tidak terlalu mengetahui tepatnya usia Encim saat itu. Mungkin sekitar 50 tahunan ya. Biar begitu, Encim masih kuat mengemudikan motor bebek jadul seorang diri di keramaian lalu lintas. Bener-bener...The Power of Emak-emak.

Encim. Sumber Foto: Facebook


4.      Mang Udin
Siapakah beliau? Beliau bukanlah guru maupun pekerja di TK-SD Priangan. Mang Udin hanyalah seorang penjual batagor yang sering mangkal di area sekitar sekolah. Mang Udin awalnya berjualan sekitar tahun 1985-1986. Masih kelas 2 SD!!!! Pada tahun itu, Mang Udin menjual batagornya masih dengan harga 100/ buah. (Hmm..bandingkan dengan jaman sekarang) Sejak menyelesaikan pendidikan di tingkat SD dan melanjutkan ke tingkat SMP, belum pernah merasakan lagi batagor Mang Udin. Baru beberapa tahun kebelakang merasakan kembali batagor buatan Mang Udin. Itu pun tanpa sengaja dan tidak menyangka bahwa Mang Udin tetap setia berjualan batagor di lingkungan sekolah tersebut. Berarti Mang Udin turut menyaksikan siswa-siswi TK-SD Priangan tumbuh dan berkembang. Bahkan, ada sebagian alumni TK-SD Priangan yang juga menyekolahkan anak-anaknya di sekolah yang sama. Waahhh...Mang Udin bukan sekedar penjual batagor tapi juga bapak dan kakeknya anak-anak.

Sumber Foto: Dok,. Pribadi


Selain keempat tokoh yang menyaksikan siswa-siswi TK-SD Priangan tumbuh dan berkembang, ada juga guru-guru dan tentu saja penjual makanan lainnya. Diantaranya penjual gulali dan penjual lemper.

Dulu, penjual gulali memiliki tempat mangkal di depan gerbang TK Priangan. Cemilan gula unik yang dapat dibentuk dengan aneka macam karakter. Sering waktu berlalu, penjual gulali tidak terlihat lagi di area tersebut. Sayang sekali, tidak generasi penerus yang menjual gulali.

Lalu..apa yang unik dari penjual lemper? Ya,, penjual lemper itu menjajakan dagangannya keliling area sekolah dan lokasi sekitar sekolah dengan menggunakan sepeda sambil berteriak-teriak dengan suara khasnya...LEMPEEERRRRRRRR!!!!!!!!!!!

Gulali. Sumber Foto: Google  



Gurileum. Sumber Foto: Google


Di TK-SD Priangan, ada satu momen yang selalu membuat tegang para siswa. Apakah itu? Momen saat sedang konsentrasi belajar, tiba-tiba datanglah ‘sang peri gigi’ alias pak dokter gigi yang memberikan kartu pemeriksaan gigi ke wali kelas. Pertanda...bakal ada yang dicabut giginya!!!!! Hihi..seru, ya.  

Buat saya pribadi, TK-SD Priangan bukan sekedar tempat belajar. Ternyata, TK-SD Priangan menjadi tempat ‘reuni tak resmi’ antara ayah saya dan teman-temannya jaman kuliah dulu. Kenapa begitu? Yap!! Saat mengantar jemput anaknya tanpa diduga bertemu dengan ‘genk’ nya, yang sudah lama tak bersua, yang juga mengantar jemput anak-anaknya. Dan...tradisi seperti ini berlanjut pada teman-teman se-angkatan.

Begitu banyak kisah manis dan lucu saat berada di TK-SD Priangan. Sekolah tersebut tidak hanya tempat untuk menuntut ilmu tapi juga ‘rumah’ saat kami mengalami masa-masa tumbuh dan berkembang. Akankah kisah-kisah tersebut hilang begitu saja? Tidak!! Masa depan boleh berubah tapi sejarah masa lalu tidak akan pernah berubah. Dan kami siswa-siswi TK-SD Priangan tidak akan melupakan sejarah itu.

Di Sekolah ini Kami Bertumbuh. 
 
Sumber Foto: Google

Minggu, 02 April 2017

KEAJAIBAN ITU BERNAMA UMRAH

Semua umat Islam berkeinginan berkunjung ke tanah suci Arab Saudi untuk menunaikan ibadah haji atau umrah. Tak jarang keinginan itu hanyalah keinginan semata mengingat tingginya biaya kedua ibadah tersebut. Untuk menabung pun dibutuhkan waktu yang tidak sebentar. 

Saya pun merasakan hal seperti itu. Bukan hanya masalah biaya tapi juga merasa diri belum pantas untuk menunaikan ibadah tersebut. Ibadah sehari-hari rasanya belum khusyu. Baca Al Quran pun belum lancar dan boleh dikata saya jarang menyentuh kitab suci itu. Bahkan terpikir untuk berangkat kesana  pun tidak pernah.
King Abdul Aziz Airport, Jeddah


Begitulah...hari demi hari..mimpi saya adalah keliling Eropa bukan ke tanah suci. Sampai akhirnya di tanggal 1 Januari 2017, hari pertama di tahun 2017, dapat telepon dari kerabat yang tinggal di Jakarta. Kabarnya adalah ‘Mau menyampaikan amanat bahwa kamu akan berangkat umrah di bulan Februari 2017’ Mendapat kabar seperti itu..sungguh..speechless banget. Seperti kehilangan kesadaran. Tidak pernah menyangka dapat ‘rejeki nomplok’  Pada akhirnya, keluar juga sebuah kalimat dari mulut saya ”Gua belum punya paspor!!!!”  Itulah ekspresi pertama setelah ‘kehilangan kesadaran’ beberapa saat.
Sholat beratapkan payung elektrik, Masjid Nabawi, Madinah


Jadi ingat beberapa hari sebelumnya. Bertemu teman kuliah yang bekerja di Kuala Lumpur. Karena berlibur ke Indonesia jadinya mengajak reunian. Bukan  reuni besar-besaran sih. Hanya berkumpul di tempat angkringan. Teman tersebut cerita bahwa dia akan mendaftarkan diri untuk menjadi nasabah tabungan umrah. Yang menjadi agen marketingnya masih teman satu kampus juga. Sambil ‘say hello’ dan sedikit nostalgia tentang kegiatan waktu kuliah, teman yang jadi agen marketing umrah tersebut menceritakan tentang pekerjaannya. Lagi-lagi tidak terlalu tertarik untuk umrah maupun haji karena sadar diri akan keadaan pribadi yang belum terlalu relijius. Akhirnya..pertemuan itu berakhir dan saatnya untuk membayar pesanan. Di kasir, teman yang menjadi agen umrah itu berkata pada pegawai kasir, “Mas, teman saya mau umrah, lho.”  Petugas kasir lalu menimpali “Kapan umrahnya?”  Iseng, saya yang jawab “Bulan Depan.”  Petugas kasir membalas “Jangan lupa oleh-oleh air zam-zamnya, ya.”  Namanya juga obrolan yang tidak terlalu serius. Jadinya tidak terlalu dipikirkan dampaknya. Ternyata, pepatah yang mengatakan ‘Hati-hati dengan ucapan karena bisa menjadi doa’ adalah benar adanya. Dan itu memang terjadi. Sebulan setelah pertemuan itu, saya dapat undangan untuk pergi ke tanah suci. Allahu Akbar!!!!

Berharap berkah air zam-zam, Masjid Nabawi, Madinah

Singkat cerita, kegiatan pun disibukkan dengan bolak-balik ke imigrasi untuk membuat paspor, vaksin meningitis dan pengurusan bagasi. Akhirnya, tibalah waktunya untuk berangkat. Tanggal 9 Februari 2017 saya dan anggota keluarga lainnya terbang menuju Abu Dhabi selama 8 jam 20 menit dan melanjutkan perjalanan menuju Jeddah yang memakan waktu dua jam. 

Sesampainya di Jeddah, dengan menggunakan bis perjalanan dilanjutkan menuju Madinah melewati area yang penuh padang pasir. Di bis pun masih belum percaya bahwa saya sudah menginjakkan kaki di tanah suci. Melihat keadaan sekitar yang gersang tanpa pepohonan dan penuh padang pasir bahkan seperti tidak nampak ‘tanda-tanda kehidupan’, belum terbayang kota Madinah seperti apa. Selama perjalanan, Pak Habib yang membimbing para jamaah, bercerita sekilas tentang apa itu umrah. 

Salah satu sudut kota Madinah


Tak terasa, akhirnya bis memasuki kota Madinah. Terlihat banyak gedung bertingkat, kendaraan yang lalu lalang, bahkan under pass pun ada di Madinah. Sampailah rombongan di hotel tempat menginap. Sebelum memasuki hotel, Pak Habib menunjukkan letak Masjid Nabawi yang berada tepat di depan hotel. Saat melihat payung elektrik yang sering dibicarakan oleh orang-orang yang sudah berkunjung, kembali speechless. Datang ke tanah suci tanpa bekal pengetahuan yang cukup tentang umrah. Ternyata Allah menempatkan saya dan rombongan langsung di depan Masjid Nabawi. Sungguh..Allah begitu cinta akan umat Nya walaupun umat Nya belum terlalu khusyu dalam beribadah. Saya dan rombongan tiba di hotel pada hari jumat siang. Setelah menempati kamar hotel, diberi kesempatan untuk beristirahat sejenak dan mempersiapkan diri untuk sholat jumat. Di tanah suci, sholat jumat tidak hanya bagi kaum adam. Kaum hawa pun menunaikan sholat jumat.
Masjid Nabawi, Madinah Al Munawwarah

Saya menunaikan ibadah umrah di bulan Februari, sedang musim dingin. Tapi matahari bersinar terik jadi hawa dingin itu tidak terasa menggigil di badan. Saat pertama kali menginjakkan kaki di Masjid Nabawi, masih terasa biasa-biasa saja. Tidak ada hal yang istimewa. Masjid ini sering terdengar dari cerita orang-orang. Hanya mendengar dan tidak pernah bermimpi akan berkunjung. Tanpa diduga, bisa menginjakkan kaki di masjid yang rasanya hanya ada di negeri dongeng. Ketika mencari shaf kosong untuk shalat, saya menempati shaf yang tepat di mulut pintu Masjid Nabawi. Saya duduk bersebelahan dengan jamaah umrah asal Kuwait. Iseng-iseng coba menyapa dengan bahasa Inggris. Responnya positif. Iiiihhh...senangnya bisa bertemu dengan saudara seiman dari negara lain. Semoga bisa bertemu kembali dengan ukhti dari Kuwait. Selesai shalat, saya dan rombongan kembali ke hotel sambil melihat-lihat toko-toko yang ada di sekitar masjid. Begitulah orang Indonesia. Dimanapun berada tidak pernah lepas dari acara ‘cuci mata’ sekedar untuk melihat-lihat ataupun berbelanja. 

Pasar Kurma, Madinah


City Tour


Sekitar tiga hari berada di Madinah. Tentunya tidak hanya berdiam diri di Masjid Nabawi, ya. Ada jadwal city tour kota Madinah. Tempat yang dikunjungi adalah Masjid Quba, Masjid Qiblatain, dan tentu saja Pasar Kurma. Selama berada di Madinah, sangat terkesan dengan warganya yang fasih berbahasa Indonesia. Bahkan, ketika mengunjungi Masjid Quba ada beberapa pedagang memawarkan barang dagangannya sambil berkata ”Ya..gamisnya. Murah..murah..boleh dibayar dengan uang rupiah. Harganya hanya 50 ribu saja.”   Saking banyaknya warga Madinah fasih berbahasa Indonesia rasanya seperti berada di Indonesia bukan di Arab. Dan yang paling merasa terkesan saat memasuki toko perhiasan perak di dekat Masjid Nabawi. Salah satu penjaga toko bertanya dengan bahasa Indonesia yang fasih.
 (+)“Indonesianya dimana?”
 (-) Saya jawab “Dari Bandung.”
 (+) “Oh, Bandung, ya. Sebelah mana Bandung nya?”
 (-) “Daerah Pasteur”
 (+) “Tahu daerah Kiara Condong?”

Wakwawwww....kok bisa tahu Kiara Condong?  Ternyata ‘Pangeran Madinah’ itu pernah berkunjung ke Bandung. Temannya tinggal di Kiara Condong. Tak lupa, beliau pun menyapa dengan sapaan  orang Bandung yang khas “Damang?” Sesudah bercakap-cakap, saya pun memutuskan untuk kembali ke hotel. Sebelum berpisah, ‘Pangeran Madinah’ itu bertanya lagi “Kalau bala-bala masih ada?”  Eh, buset..la buset-buset...gorengan bala-bala yang merupakan cemilan kampung ternyata disukai si 'Pamgeran Madinah'.  I am sorry to say kalau beliau ‘Pangeran Madinah’ tampangnya itu, lho bo...guuaaannnnteeennnggg!!!! (hush..hush...waktunya ibadah..bukan ngeceng)

Masjid Bir Ali, Madinah


Yuk..ah..yuk..ah..harus segera berkemas karena esok hari harus check out untuk bertolak ke kota Mekkah. Perjalanan Madinah-Mekkah memakan waktu 5 jam. Sejak check out, para jamaah sudah diwajibkan berihram. Dalam perjalanan, pembimbing umrah menjelaskan tentang tata cara berniat umrah yang akan dilaksanakan di Masjid Bir Ali sebagai lokasi Miqat. Saat tiba di Masjid, para jamaah melaksanakan shalat sunat tahiyatul masjid dan mengucapkan niat untuk berumrah. Perjalanan pun dilanjutkan menuju kota Mekkah. Sesampainya di hotel, para jamaah diberi waktu untuk beristirahat sejenak dan mempersiapkan diri untuk segera berangkat ke Masjidil Haram yang jaraknya 500 meter dari hotel tempat menginap.
Terharu!!!!! Ka 'Bah

Akhirnya...saya dan jamaah lainnya berangkat ke Masjidil Haram dengan berjalan kaki. Sambil berjalan, Pak Habib membimbing jamaah untuk berdzikir. Tak terasa, sampailah di Masjidil Haram.  Pelan-pelan, memasuki masjid melalui King Fahad Gate. Lama-lama...terlihat bangunan yang selama ini selalu dilihat di sajadah..Ka’Bah!  Allahu Akbar...tak terasa air mata menetes. Bermimpikah saya? Yang di depan itu betul-betul Ka ‘Bah, kan? OMG!!!!! Inilah keajaiban. Sambil mengelilingi Ka’Bah..masih tetap belum percaya akan berada dihadapan titik peribadatan umat muslim. Hanya beberapa langkah di depan mata. There, I successfully touched Ka 'Bah!!!!! ( makin berlinang air mata...) Kapan ya..bisa kesini lagi?

Apakah selama di Mekkah hanya mengerjakan thawaf dan sa’i? Oh, tentu tidak. Ada kegiatan city tour juga seperti di Madinah. Tempat-tempat yang dikunjungi adalah Arafah yang merupakan lokasi Jabal Rahmah berada. Tempat bertemunya kembali Nabi Adam dan Siti Hawa di dunia setelah berpisah sekian lama. Karena hal itu, konon yang ingin mendapatkan jodoh, banyak-banyaklah berdoa disini agar segera dipertemukan dengan jodohnya. Aamiin!!!! Dari Arafah, perjalanan dilanjutkan ke Mudzdalifah dan  Mina. Sayangnya..di dua area ini, rombongan tidak berhenti untuk mampir karena keadaannya sangat sepi tanpa penduduk. Dua area ini akan ramai saat musim haji. Musim haji usai, maka area-area tersebut akan sepi kembali.
Jabal Rahmah, Arafah, Mekkah Al Mukaromah

Keadaan geografis Arab Saudi yang berbukit-bukit, maka tidaklah heran para jamaah akan sering menemui perbukitan. Saat di kota Mudzdalifah dan posisi rombongan mendekati kota Mina, Pak Habib yang jadi pembimbing tur menunjukkan tangannya ke arah atas perbukitan. Disitu terlihat sebuah tugu. Tugu apakah itu? Tugu itu adalah tanda bahwa di tempat itu beberapa abad silam Nabi Ibrahim akan menyembelih putranya, Nabi Ismail. Sungguh..setelah melihat langsung tempat-tempat tersebut makin yakin bahwa kisah-kisah dalam Al Quran bukan semata dongeng tapi memang nyata. Dan saya bersaksi akan kenyataan dari kisah-kisah Al Quran.

Dalam kegiatan city tour di kota Mekkah, para jamaah diberi kesempatan untuk melaksanakan umrah kembali. Bisa untuk diri sendiri maupun untuk keluarga yang sudah berpulang. Saya memutuskan untuk umrah kembali agar bisa mengumrahkan ibu saya yang sudah berpulang. Akhirnya, rombongan tiba di Masjid Tan’im sebagai lokasi miqat. Untuk kaum lelaki, kembali mengenakan kain ihram sedangkan untuk wanita, berihramnya bisa mengenakan pakaian yang saat itu sedang dipakai walaupun pakaian itu tidak berwarna putih. Diawali dengan shalat sunat tahiyatul masjid dan shalat dhuha. Tak lupa mengucapkan niat berumrah atas nama sendiri bagi yang berumrah untuk diri sendiri dan niat berumrah atas nama seseorang bagi yang akan mengumrahkan orang lain. 
Pusat Kota Jeddah

Sekitar 4 hari saya dan jamaah menghabiskan waktu di Mekkah. Tiba saatnya untuk kembali ke tanah air. Sebelum check out, para jamaah melakukan thawaf wada yaitu thawaf perpisahan. Thawaf ini tidak dibarengi dengan sa’i. Menyempatkan diri berucap janji di depan Ka ‘Bah bahwa saya akan kembali ke tempat ini tahun depan. Semoga Allah mengijinkan.
Selama di tanah suci, soal makanan jangan khawatir karena sudah disediakan. Bukan hanya saat di hotel tapi juga di bis saat melaksanakan city tour. Namun, ada menu yang dirindukan. Untuk orang Bandung seperti saya, rasanya ada yang kurang jika tidak ada menu baso dan mie baso. Dan..menu baso itu saya dapatkan saat dalam perjalanan menuju Jeddah sesudah check out dari hotel di Mekkah. Ada penjual makanan yang menggunakan merek ‘Baso Mang Oedin’  Penjual baso yang sangat terkenal di Jeddah. Pemiliknya adalah warga Arab asli yang sangat fasih berbahasa Indonesia. Di pintu masuk menyapa pengunjung sambil berteriak-teriak..”Ya..basonya Mang Udin..silakan masuk!!!!!” Dengan mematok harga 12 real, baso ini dipenuhi pengunjung yang mayoritas adalah jamaah dari Indonesia. Hahaha...seru, ya..menu baso pun ada disana. Plus...ada merek 'Bandung Asli'   Bandung Memang Juara!!!!! Terkenal sampai Arab.

Pusat Kota Jeddah

Kesan yang saya dapatkan adalah ibadah umrah bukan hanya sekedar ritual ibadah tapi juga ibadah yang mempersatukan umat muslim di seluruh dunia dengan bahasa yang sama yaitu bahasa Alquran dan satu gerakan yang sama yaitu gerakan shalat. Itu saya rasakan pada saat saya melakukan ibadah shalat, seringkali saya shalat berdampingan dengan saudara seiman dari Turki, India, Pakistan dan Bangladesh. Bahkan saat di hotel di Mekkah, saya bertemu dengan saudara seiman dari Irak dan Tunisia. Karena saya berwajah Asia, banyak yang mengira bahwa saya adalah jamaah dari Malaysia. Senang rasanya saling sapa dengan mereka. Bahasa boleh beda. Budaya boleh beda. Negara boleh beda. Namun hanya sekedar menyapa “Assalamu ‘alaikum” pertemanan itu langsung terjalin. Rasanya sudah kenal bertahun-tahun lamanya. Islam memang Indah, ya. 

Hikmah dari perjalanan ini bahwa Allah sangat mencintai umat Nya. Allah tidak pernah kemana-mana. Umat Nya yang selalu kemana-mana. Saya yang tidak pernah bermimpi ke tanah suci, ternyata Allah takdirkan untuk datang ke tanah suci. Percayalah pada Nya. Yang memiliki banyak uang belum tentu akan berkunjung ke tanah suci. Yang memiliki uang pas-pas an belum tentu tidak akan mengunjungi tanah suci. Semua ini adalah undangan dari Nya. Tetaplah bekerja dan berkarya dengan niat untuk ibadah. Niscaya keajaiban ke tanah suci bukanlah hal mustahil.

Labbaika Allahumma Labbaik...