Semua umat Islam berkeinginan
berkunjung ke tanah suci Arab Saudi untuk menunaikan ibadah haji atau umrah.
Tak jarang keinginan itu hanyalah keinginan semata mengingat tingginya biaya
kedua ibadah tersebut. Untuk menabung pun dibutuhkan waktu yang tidak sebentar.
Saya pun merasakan hal seperti
itu. Bukan hanya masalah biaya tapi juga merasa diri belum pantas untuk
menunaikan ibadah tersebut. Ibadah sehari-hari rasanya belum khusyu. Baca Al
Quran pun belum lancar dan boleh dikata saya jarang menyentuh kitab suci itu.
Bahkan terpikir untuk berangkat kesana
pun tidak pernah.
 |
King Abdul Aziz Airport, Jeddah
|
|
Begitulah...hari demi hari..mimpi
saya adalah keliling Eropa bukan ke tanah suci. Sampai akhirnya di tanggal 1
Januari 2017, hari pertama di tahun 2017, dapat telepon dari kerabat yang
tinggal di Jakarta. Kabarnya adalah ‘Mau menyampaikan amanat bahwa kamu akan
berangkat umrah di bulan Februari 2017’ Mendapat kabar seperti
itu..sungguh..speechless banget. Seperti kehilangan kesadaran. Tidak pernah menyangka dapat ‘rejeki nomplok’ Pada akhirnya, keluar juga sebuah kalimat
dari mulut saya ”Gua belum punya paspor!!!!”
Itulah ekspresi pertama setelah ‘kehilangan kesadaran’ beberapa saat.
 |
Sholat beratapkan payung elektrik, Masjid Nabawi, Madinah
|
|
Jadi ingat beberapa hari
sebelumnya. Bertemu teman kuliah yang bekerja di Kuala Lumpur. Karena berlibur
ke Indonesia jadinya mengajak reunian. Bukan
reuni besar-besaran sih. Hanya berkumpul di tempat angkringan. Teman tersebut
cerita bahwa dia akan mendaftarkan diri untuk menjadi nasabah tabungan umrah. Yang
menjadi agen marketingnya masih teman satu kampus juga. Sambil ‘say hello’ dan
sedikit nostalgia tentang kegiatan waktu kuliah, teman yang jadi agen marketing
umrah tersebut menceritakan tentang pekerjaannya. Lagi-lagi tidak terlalu
tertarik untuk umrah maupun haji karena sadar diri akan keadaan pribadi yang
belum terlalu relijius. Akhirnya..pertemuan itu berakhir dan saatnya untuk
membayar pesanan. Di kasir, teman yang menjadi agen umrah itu berkata pada
pegawai kasir, “Mas, teman saya mau umrah, lho.” Petugas kasir lalu menimpali “Kapan umrahnya?” Iseng, saya yang jawab “Bulan Depan.” Petugas kasir membalas “Jangan lupa oleh-oleh
air zam-zamnya, ya.” Namanya juga
obrolan yang tidak terlalu serius. Jadinya tidak terlalu dipikirkan dampaknya.
Ternyata, pepatah yang mengatakan ‘Hati-hati dengan ucapan karena bisa menjadi
doa’ adalah benar adanya. Dan itu memang terjadi. Sebulan setelah pertemuan
itu, saya dapat undangan untuk pergi ke tanah suci. Allahu Akbar!!!!
 |
Berharap berkah air zam-zam, Masjid Nabawi, Madinah
|
Singkat cerita, kegiatan pun
disibukkan dengan bolak-balik ke imigrasi untuk membuat paspor, vaksin meningitis dan pengurusan
bagasi. Akhirnya, tibalah waktunya untuk berangkat. Tanggal 9 Februari 2017
saya dan anggota keluarga lainnya terbang menuju Abu Dhabi selama 8 jam 20
menit dan melanjutkan perjalanan menuju Jeddah yang memakan waktu
dua jam.
Sesampainya di Jeddah, dengan
menggunakan bis perjalanan dilanjutkan menuju Madinah melewati area yang penuh
padang pasir. Di bis pun masih belum percaya bahwa saya sudah menginjakkan kaki
di tanah suci. Melihat keadaan sekitar yang gersang tanpa pepohonan dan penuh
padang pasir bahkan seperti tidak nampak ‘tanda-tanda kehidupan’, belum
terbayang kota Madinah seperti apa. Selama perjalanan, Pak Habib yang membimbing
para jamaah, bercerita sekilas tentang apa itu umrah.
 |
Salah satu sudut kota Madinah
|
|
Tak terasa, akhirnya bis memasuki
kota Madinah. Terlihat banyak gedung bertingkat, kendaraan yang lalu lalang, bahkan
under pass pun ada di Madinah. Sampailah rombongan di hotel tempat menginap.
Sebelum memasuki hotel, Pak Habib menunjukkan letak Masjid Nabawi yang berada
tepat di depan hotel. Saat melihat payung elektrik yang sering dibicarakan oleh
orang-orang yang suda
h berkunjung, kembali
speechless. Datang ke tanah suci
tanpa bekal pengetahuan yang cukup tentang umrah. Ternyata Allah menempatkan
saya dan rombongan langsung di depan Masjid Nabawi. Sungguh..Allah begitu cinta
akan umat Nya walaupun umat Nya belum terlalu khusyu dalam beribadah. Saya dan
rombongan tiba di hotel pada hari jumat siang. Setelah menempati kamar hotel,
diberi kesempatan untuk beristirahat sejenak dan mempersiapkan diri untuk
sholat jumat. Di tanah suci, sholat jumat tidak hanya bagi kaum adam. Kaum hawa
pun menunaikan sholat jumat.
 |
| Masjid Nabawi, Madinah Al Munawwarah |
|
Saya menunaikan ibadah umrah di
bulan Februari, sedang musim dingin. Tapi matahari bersinar terik jadi hawa
dingin itu tidak terasa menggigil di badan. Saat pertama kali menginjakkan kaki
di Masjid Nabawi, masih terasa biasa-biasa saja. Tidak ada hal yang istimewa. Masjid ini sering terdengar dari
cerita orang-orang. Hanya mendengar dan tidak pernah bermimpi akan berkunjung.
Tanpa diduga, bisa menginjakkan kaki di masjid yang rasanya hanya ada di negeri
dongeng. Ketika mencari shaf kosong untuk shalat, saya menempati shaf yang
tepat di mulut pintu Masjid Nabawi. Saya duduk bersebelahan dengan jamaah umrah
asal Kuwait. Iseng-iseng coba menyapa dengan bahasa Inggris. Responnya positif.
Iiiihhh...senangnya bisa bertemu dengan saudara seiman dari negara lain. Semoga
bisa bertemu kembali dengan ukhti dari Kuwait. Selesai shalat, saya dan
rombongan kembali ke hotel sambil melihat-lihat toko-toko yang ada di sekitar
masjid. Begitulah orang Indonesia. Dimanapun berada tidak pernah lepas dari
acara ‘cuci mata’ sekedar untuk melihat-lihat ataupun berbelanja.
 |
| Pasar Kurma, Madinah | |
 |
City Tour
|
|
Sekitar tiga hari berada di
Madinah. Tentunya tidak hanya berdiam diri di Masjid Nabawi, ya. Ada jadwal
city tour kota Madinah. Tempat yang dikunjungi adalah Masjid Quba, Masjid Qiblatain,
dan tentu saja Pasar Kurma. Selama berada di Madinah, sangat terkesan dengan
warganya yang fasih berbahasa Indonesia. Bahkan, ketika mengunjungi Masjid Quba
ada beberapa pedagang memawarkan barang dagangannya sambil berkata ”Ya..gamisnya. Murah..murah..boleh dibayar dengan uang rupiah. Harganya
hanya 50 ribu saja.” Saking banyaknya
warga Madinah fasih berbahasa Indonesia rasanya seperti berada di Indonesia
bukan di Arab. Dan yang paling merasa terkesan saat memasuki toko perhiasan
perak di dekat Masjid Nabawi. Salah satu penjaga toko bertanya dengan bahasa
Indonesia yang fasih.
(+)“Indonesianya dimana?”
(-) Saya jawab “Dari Bandung.”
(+) “Oh, Bandung, ya. Sebelah mana Bandung
nya?”
(-) “Daerah Pasteur”
(+) “Tahu daerah Kiara Condong?”
Wakwawwww....kok bisa tahu Kiara
Condong? Ternyata ‘Pangeran Madinah’ itu
pernah berkunjung ke Bandung. Temannya tinggal di Kiara Condong. Tak lupa, beliau pun
menyapa dengan sapaan orang Bandung yang khas “Damang?” Sesudah bercakap-cakap, saya
pun memutuskan untuk kembali ke hotel. Sebelum berpisah, ‘Pangeran Madinah’ itu
bertanya lagi “Kalau bala-bala masih ada?” Eh, buset..la buset-buset...gorengan bala-bala yang merupakan cemilan kampung ternyata disukai si 'Pamgeran Madinah'. I am sorry
to say kalau beliau ‘Pangeran Madinah’ tampangnya itu, lho
bo...guuaaannnnteeennnggg!!!! (hush..hush...waktunya ibadah..bukan ngeceng)
 |
Masjid Bir Ali, Madinah
|
|
Yuk..ah..yuk..ah..harus segera
berkemas karena esok hari harus
check out untuk bertolak ke kota Mekkah.
Perjalanan Madinah-Mekkah memakan waktu 5 jam. Sejak
check out, para jamaah
sudah diwajibkan berihram. Dalam perjalanan, pembimbing umrah menjelaskan
tentang tata cara berniat umrah yang akan dilaksanakan di Masjid Bir Ali
sebagai lokasi Miqat. Saat tiba di Masjid, para jamaah melaksanakan shalat
sunat tahiyatul masjid dan mengucapkan niat untuk berumrah. Perjalanan pun
dilanjutkan menuju kota Mekkah. Sesampainya di hotel, para jamaah diberi waktu
untuk beristirahat sejenak dan mempersiapkan diri untuk segera berangkat ke
Masjidil Haram yang jaraknya 500 meter dari hotel tempat menginap.
 |
Terharu!!!!! Ka 'Bah
|
Akhirnya...saya dan jamaah
lainnya berangkat ke Masjidil Haram dengan berjalan kaki. Sambil berjalan, Pak
Habib membimbing jamaah untuk berdzikir. Tak terasa, sampailah di Masjidil
Haram. Pelan-pelan, memasuki masjid
melalui King Fahad Gate. Lama-lama...terlihat bangunan yang selama ini selalu
dilihat di sajadah..Ka’Bah! Allahu
Akbar...tak terasa air mata menetes. Bermimpikah
saya? Yang di depan itu betul-betul Ka ‘Bah, kan? OMG!!!!! Inilah keajaiban.
Sambil mengelilingi Ka’Bah..masih tetap belum percaya akan berada dihadapan
titik peribadatan umat muslim. Hanya beberapa langkah di depan mata. There, I successfully touched Ka 'Bah!!!!! ( makin berlinang air mata...) Kapan
ya..bisa kesini lagi?
Apakah selama di Mekkah hanya
mengerjakan thawaf dan sa’i? Oh, tentu tidak. Ada kegiatan city tour juga seperti di Madinah.
Tempat-tempat yang dikunjungi adalah Arafah yang merupakan lokasi Jabal
Rahmah berada. Tempat bertemunya kembali Nabi Adam dan Siti Hawa di dunia
setelah berpisah sekian lama. Karena hal itu, konon yang ingin mendapatkan
jodoh, banyak-banyaklah berdoa disini agar segera dipertemukan dengan jodohnya.
Aamiin!!!! Dari Arafah, perjalanan dilanjutkan ke Mudzdalifah dan
Mina. Sayangnya..di dua area ini, rombongan tidak berhenti untuk mampir karena
keadaannya sangat sepi tanpa penduduk. Dua area ini akan ramai saat musim haji.
Musim haji usai, maka area-area tersebut akan sepi kembali.
 |
| Jabal Rahmah, Arafah, Mekkah Al Mukaromah |
Keadaan geografis Arab Saudi yang
berbukit-bukit, maka tidaklah heran para jamaah akan sering menemui perbukitan.
Saat di kota Mudzdalifah dan posisi rombongan mendekati kota Mina, Pak Habib
yang jadi pembimbing tur menunjukkan tangannya ke arah atas perbukitan. Disitu
terlihat sebuah tugu. Tugu apakah itu? Tugu itu adalah tanda bahwa di tempat
itu beberapa abad silam Nabi Ibrahim akan menyembelih putranya, Nabi Ismail.
Sungguh..setelah melihat langsung tempat-tempat tersebut makin yakin bahwa
kisah-kisah dalam Al Quran bukan semata dongeng tapi memang nyata. Dan saya
bersaksi akan kenyataan dari kisah-kisah Al Quran.
Dalam kegiatan city tour di kota
Mekkah, para jamaah diberi kesempatan untuk melaksanakan umrah kembali. Bisa untuk
diri sendiri maupun untuk keluarga yang sudah berpulang. Saya memutuskan untuk
umrah kembali agar bisa mengumrahkan ibu saya yang sudah berpulang. Akhirnya,
rombongan tiba di Masjid Tan’im sebagai lokasi miqat. Untuk kaum lelaki,
kembali mengenakan kain ihram sedangkan untuk wanita, berihramnya bisa
mengenakan pakaian yang saat itu sedang dipakai walaupun pakaian itu tidak
berwarna putih. Diawali dengan shalat sunat tahiyatul masjid dan shalat dhuha.
Tak lupa mengucapkan niat berumrah atas nama sendiri bagi yang berumrah untuk
diri sendiri dan niat berumrah atas nama seseorang bagi yang akan mengumrahkan
orang lain.
 |
Pusat Kota Jeddah
|
Sekitar 4 hari saya dan jamaah
menghabiskan waktu di Mekkah. Tiba saatnya untuk kembali ke tanah air. Sebelum
check out, para jamaah melakukan thawaf wada yaitu thawaf perpisahan. Thawaf
ini tidak dibarengi dengan sa’i. Menyempatkan diri berucap janji di depan Ka
‘Bah bahwa saya akan kembali ke tempat ini tahun depan. Semoga Allah
mengijinkan.
Selama di tanah suci, soal
makanan jangan khawatir karena sudah disediakan. Bukan hanya saat di hotel tapi
juga di bis saat melaksanakan
city tour. Namun, ada menu yang dirindukan. Untuk
orang Bandung seperti saya, rasanya ada yang kurang jika tidak ada menu baso
dan mie baso. Dan..menu baso itu saya dapatkan saat dalam perjalanan menuju
Jeddah sesudah
check out dari hotel di Mekkah. Ada penjual makanan yang
menggunakan merek ‘Baso Mang Oedin’
Penjual baso yang sangat terkenal di Jeddah. Pemiliknya adalah warga
Arab asli yang sangat fasih berbahasa Indonesia. Di pintu masuk menyapa
pengunjung sambil berteriak-teriak..”Ya..basonya Mang Udin..silakan masuk!!!!!”
Dengan mematok harga 12 real, baso ini dipenuhi pengunjung yang mayoritas
adalah jamaah dari Indonesia. Hahaha...seru, ya..menu baso pun ada disana. Plus...ada merek 'Bandung Asli' Bandung Memang Juara!!!!! Terkenal sampai Arab.
 |
Pusat Kota Jeddah
|
Kesan yang saya dapatkan adalah
ibadah umrah bukan hanya sekedar ritual ibadah tapi juga ibadah yang
mempersatukan umat muslim di seluruh dunia dengan bahasa yang sama yaitu bahasa
Alquran dan satu gerakan yang sama yaitu gerakan shalat. Itu saya rasakan pada
saat saya melakukan ibadah shalat, seringkali saya shalat berdampingan dengan
saudara seiman dari Turki, India, Pakistan dan Bangladesh. Bahkan saat di hotel
di Mekkah, saya bertemu dengan saudara seiman dari Irak dan Tunisia. Karena
saya berwajah Asia, banyak yang mengira bahwa saya adalah jamaah dari Malaysia.
Senang rasanya saling sapa dengan mereka. Bahasa boleh beda. Budaya boleh beda.
Negara boleh beda. Namun hanya sekedar menyapa “Assalamu ‘alaikum” pertemanan
itu langsung terjalin. Rasanya sudah kenal bertahun-tahun lamanya. Islam memang
Indah, ya.
Hikmah dari perjalanan ini bahwa
Allah sangat mencintai umat Nya. Allah tidak pernah kemana-mana. Umat Nya yang
selalu kemana-mana. Saya yang tidak pernah bermimpi ke tanah suci, ternyata
Allah takdirkan untuk datang ke tanah suci. Percayalah pada Nya. Yang memiliki
banyak uang belum tentu akan berkunjung ke tanah suci. Yang memiliki uang
pas-pas an belum tentu tidak akan mengunjungi tanah suci. Semua ini adalah
undangan dari Nya. Tetaplah bekerja dan berkarya dengan niat untuk ibadah.
Niscaya keajaiban ke tanah suci bukanlah hal mustahil.
Labbaika Allahumma Labbaik...